Oleh: Sulistyo Suharto

(Bendahara 2 PW IPM Jawa Tengah 2019-2021)

IPM yang merupakan Organisasi Otonom Muhammadiyah selalu sibuk diawal tahun Pendidikan baru dengan gerakan Forum Ta’aruf dan Orientasi Siswa (FORTASI). Fortasi IPM merupakan bentuk proses perkaderan paling dasar di organisasi ini yang dilaksanakan pada tataran grass-root (Ranting Sekolah/Pesantren). Inilah saat terbaik bagi para pimpinan untuk mengenalkan IPM kepada pelajar yang baru saja memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Peserta didik baru memerlukan proses adaptasi dan pengenalan di lingkungan barunya. Hal ini yang perlu dijadikan peluang bagi IPM untuk dapat menanamkan nilai-nilai dasar organisasi melalui kegiatan-kegiatan (klasikal, diskusi, simulasi, permainan, dll.) yang menyenangkan, inovatif dan kreatif. Fortasi IPM berlandaskan semangat ukhuwah islamiyah, karena semua siswa memiliki kedudukan yang sama, baik kakak kelas maupun peserta didik baru. Selain itu fortasi menjadi ajang menumbuhkan minat dan bakat peserta didik dari berbagai latar belakang sekolah. Fortasi dapat diisi dengan agenda-agenda kreatif seperti kegiatan pentas seni yang mengasah bakat dan minat siswa baru, kegiatan kelas, bazar, kampanye cinta buku, orasi, menanam pohon, kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah kegiatan unik dan inovatif lainnya yang sesuai dengan kultur daerah masing – masing. Penanaman nilai-nilai bukan hanya dalam bentuk penyampaian materi ataupun kegiatan namun juga melalui contoh-contoh yang baik dari kakak kelas yang selanjutnya menginspirasi peserta didik baru. Fenomena fortasi inilah yang selama bertahun – tahun mewarnai agenda awal tahun ajaran baru di Perguruan Muhammadiyah.

Dengan tema spirit kolaboratif ciptakan pelajar inovatif harapanya semua pelajar Muhammadiyah dapat menjadi bagian bersama masyarakat untuk bergerak bersama melakukan perubahan. Di sekolah, setiap siswa memiliki harapan-harapan baru untuk berkembang dan berprestasi. Semua siswa pun menginginkan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Suasana itulah yang akan mendorong semangat menuntut ilmu yang lebih baik. Menciptakan keadaan yang demikian tentu bukan hanya tugas dari guru atau pun karyawan selaku fasilitator pendidikan tapi juga seluruh pihak, tak terkecuali para siswa. Memunculkan sikap saling menghargai dan mengayomi perlu ditumbuhkan dalam suasana baru sekolah karena di sekolahlah para siswa akan menghabiskan hari-harinya dalam sepekan. Prinsip gotong royong harus selalu di gelorakan IPM agar dapat memperluas jangkauan gerakannya sehingga yang keberadaaan IPM dapat dirasakan masyarakat.

Saatnya bagi kita untuk menyatakan bahwa bullying ataupun segala bentuk perploncoan di lingkungan sekolah sama sekali tidak diperlukan baik selama FORTASI/PLS maupun selama kegiatan belajar mengajar di Sekolah. Atmosfer sekolah yang kita inginkan adalah suasana nyaman, menyenangkan, dengan semangat berkreasi inovatif. Hal ini bukan berarti komponen pendidik tidak boleh bersikap tegas tehadap peserta didik yang benar-benar melakukan pelanggaran. Baik pelanggaran etika (tidak sopan, tidak disiplin, dll.) maupun bentuk-bentuk penyimpangan lain yang berat, semisal palanggaran moral hingga kriminal. Namun, sanksi yang diberikan pun harus bersifat edukatif dan menyadarkan, bukan hukuman yang menimbulkan derita berkepanjangan secara fisik dan psikis bagi peserta didik. Maka, IPM mengajak seluruh pelajar di Indonesia untuk mengawal pelaksanaan Fortasi di perguruan Muhammadiyah maupun PLS di sekolah umum yang bermartabat, sehat, asyik, gotong royong , berbasis kegiatan kreatif, dan berkesinambungan di seluruh instansi pendidikan. Sehingga seluruh elemen pendidikan mampu mengawal sekolah yang aman dan jelas bebas dari segala bullying maupun bentuk perploncoan yang menurunkan harkat martabat instansi pendidikan. Dan harapanya dengan fortasi ini menciptakan generasi- generai invatif pemberi solusi untuk negeri.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *