Pada tanggal 5 Oktober 2019, PW IPM Jawa Tengah menyelenggarakan diskusi bertajuk Al-‘Ashr School dengan tema “Islamisme Populer: Perebutan Wacana Islam di Kalangan Milenial”. diskusi ini diselenggarakan di Masjid Al-Munajat, Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Pembicara dalam kegiatan tersebut adalah IPMawan M Taufik Hassan, Sekretaris Bidang Apresiasi Seni Budaya & Olahraga (ASBO) & Yahya Fathurrazi, Redaktur IBTimes sekaligus Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Namun, Yahya pada siang hari sebelum diskusi diselenggarakan membatalkan untuk menjadi pembicara.

Hassan menyampaikan bahwa perebutan wacana dalam dunia Islam menjadi salah satu sebab kelemahan dunia Islam, karena umat Islam terlalu sibuk dengan diri sendiri. “Wacana-wacana Islamisme itu seharusnya tidak dipertentangkan, justru harus dianggap sebagai pembagian tugas.” Kata Hasan kepada seluruh audiens.

Dalam perjalanan sejarah dunia Islam, Islam selalu mudah dipukul mundur ketika sudah terpecah belah. Contohnya dapat dilihat pada perang internal pertama dunia Islam, yaitu perang Jamal & perang Shiffin yang melahirkan fraksi-fraksi politik yang masih bertahan hingga hari ini, yaitu sunni-syiah-khawarij. Perpecahan Sunni Syiah Khawarij lebih banyak bernuansa politis, bukan ideologis.

Al-‘Ashr ini rencananya akan diadakan secara rutin di seluruh daerah di Jawa Tengah. Tema yang diangkat adalah tema-tema tentang islamic studies dan Kemuhammadiyahan. “kita angkat islamic studies agar ini menjadi semacam “pengajian”nya anak muda Muhammadiyah, agar tidak lepas dari budaya turats dan nas.” ungkap Yusuf, salah satu penyelenggara Al-‘Ashr School.

Perihal penamaan Al-‘Ashr School, nama ini pernah dipakai sebelumnya oleh kelompok studi yang didirikan oleh Azaki Khoiruddin, yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPM tahun 2014-2016. Kemudian dipinjam oleh PW IPM Jateng untuk menjadi nama diskusi mereka. Harapannya, Al-‘Ashr School ini mampu menjadi tempat mengasah nalar kritis pelajar-pelajar Muhammadiyah se Jawa Tengah, sekaligus mengenal dunia literasi seperti membaca, menulis, dan berdiskusi.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *