Oleh: Yusuf R Yanuri

Al-‘Ashr School dengan tema Islamisme Populer: Perebutan Wacana Islam di Kalangan Milenial telah usai diselenggarakan. Materi yang disampaikan dalam diskusi tersebut cukup melekat di benak penulis karena begitu menarik dan berbobot.

Sejarah perebutan wacana Islam dimulai dari fitnah kubro pertama, ketika Khalifah Utsman dibunuh, kemudian dilanjutkan pemerintahan di masa Ali yang mulai tidak stabil dengan adanya perang Jamal & perang Shiffin. Peristiwa Arbitrase dalam perang Shiffin ini membidani lahirnya tiga fraksi besar Islam yang terus-menerus berperang hingga hari ini, yaitu Sunni, Syiah, & Khawarij.

Sunni, Syiah, & Khawarij yang terus berseteru ini adalah murni produk politik. Dalam hal ini Buya Syafii menulis:
“…dari tragedi Shiffin inilah kemudian muncul tiga fraksi besar umat yang tidak pernah berdamai: Suni, Syi’ah, dan Khawarij. Suni yang muncul sebagai golongan mayoritas merasa diri selalu berada di pihak yang benar dengan mudah menuduh kelompok Syi’ah dan Khawarij sebagai pihak yang salah. Cara pandang seperti ini harus dihalau jauh-jauh dengan menjadikan Alquran sebagai hakim dan rujukan yang tertinggi. Kepentingan politik sesaat dengan dalil agama sekalipun bagi saya adalah sebuah pengkhianatan. Suni, Syi’ah, dan Khawarij adalah buah dari perpecahan politik, mengapa kemudian diberhalakan? Pemberhalaan inilah yang selama ratusan tahun telah menghancurkan persaudaraan sejati umat Islam, termasuk umat Islam yang tidak ada hubungannya dengan budaya Arab yang suka berpecah belah itu.” (Maarif: 2018)

Islamisme Populer
Ada dua latar belakang yang diatasnya keberagamaan generasi milenial ini dibentuk. Yang pertama adalah gelombang tsunami globalisasi yang merubah wajah peradaban secara total. Hal ini mengakibatkan filsafat hidup manusia -Barat maupun Timur- menjadi pragmatisme. Semua hal diukur dengan untung-rugi ekonomi. Bahkan termasuk pendidikan, bahwa pelajar pergi ke sekolah atau ke perguruan tinggi adalah untuk mendapatkan prospek kerja yang lebih baik, seperti yang dinyanyikan oleh Iwan Fals dalam lagu Sarjana Muda: “tuk jaminan masa depan.” Belajar tidak lagi dimaknai sebagai proses pencarian makna hidup yang sejati. Hal ini yang kemudian dikritik oleh Sayyid Hossein Nasr dengan istilah scientia sacra, dimana aspek kearifan seharusnya jauh lebih penting dalam ilmu pengetahuan, daripada aspek kongisi dan teknikalisme yang menjadi ciri utama modernitas.

Yang kedua, setelah runtuhnya orde baru, panggung negara yang mengatur keberagamaan dengan ketat runtuh, digantikan dengan panggung jalanan. Civil society pada masa ini mulai menguat, dibuktikan dengan menjamurnya ormas dan yayasan keagamaan Islam di berbagai daerah. Hal ini berimplikasi pada semakin ramainya pasar ideologi. Aneka ideologi dipertontonkan, sekaligus diminati oleh masyarakat, terutama generasi milenial, dengan begitu bebas.

Kedua latar belakang diatas berimplikasi pada munculnya sebagian anak-anak milenial yang gersang akan nilai-nilai keagamaan, identitas, dan spiritual. Mereka kemudian mencari-cari sendiri lingkungan yang lebih “suci” daripada lingkungan sekular dan materialistis yang menjangkiti masyarakat di sekitar mereka. Secara bersamaan, tokoh-tokoh agama menangkap pola ini, dan mereka menyediakan apa yang sedang dicari-cari oleh anak-anak muda milenial ini. Dan rata-rata yang menangkap pola sekaligus mampu mengikat hati milenial ini adalah pemain baru dalam perebutan wacana keagamaan.

Dari sinilah kemudian muncul literatur-literatur Islamisme populer dengan berbagai aktornya. Felix Siauw bisa dikatakan salah satu aktor yang paling cemerlang. Dia banyak menulis buku-buku dengan bahasa yang disukai oleh anak muda seperti Beyond the Inspiration, Muhammad Al-Fatih 1453, dan Khilafah: Remake yang bernuansa ideologis dan mencita-citakan berdirinya khilafah. Ada juga buku-buku self-help yang menekankan moralitas dan menyuplai kekeringan identitas milenial seperti Udah Putusin Aja! dan Yuk, Berhijab!.

Selain itu ada Habiburrahman El-Shirazi, alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo yang menulis novel-novel keislaman anak muda. Kang Abik, panggilan akrabnya, mengidealkan sosok muslim yang seharusnya melalui karakter-karakter di dalam novelnya. Novel yang cukup fenomenal adalah Ayat-Ayat Cinta. Dengan menggambarkan sosok Fahri Abdullah dalam novel tersebut, ia ingin mengajarkan bagaimana anak muda milenial harus berislam. Kang Abik besar dalam tradisi NU, namun cukup dekat dengan gerakan tarbiyah.

Pemain selanjutnya adalah Salim A Fillah, aktivis Masjid Jogokariyan Jogja yang terkenal melalui buku-bukunya yang bernuansa ideologis dan mengarah ke gerakan tarbiyah. Dalam tulisan-tulisannya, Salim A Fillah banyak melakukan profiling terhadap gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tipikalnya tidak jauh berbeda dengan pemain yang lain, yaitu Solikhin Abu Izzudin yang juga menulis banyak buku-buku milenial. Di jajaran pemain perempuan, ada nama Hanum Salsabila Rais, putra Amien Rais, dan Asma Nadia.

Selain dari literatur, kegersangan identitas milenial juga diobati melalui media. Pemain media justru lebih banyak yang memiliki tradisi intelektual keulamaan, berbeda dengan pemain literatur. Sebut saja Hannan Attaki, Abdul Shomad, dan Adi Hidayat. Mereka mampu merebut pasar anak muda secara cepat dan masif seiring dengan perkembangan teknologi yang ada.

Positioning Muhammadiyah
Yang kemudian harus dibahas dan dipahami oleh anak-anak muda Muhammadiyah adalah dimana posisi Muhammadiyah dalam pergumulan gerakan Islamisme yang begitu masif tersebut? Muhammadiyah merupakan pemain Islam tertua di Indonesia, bahkan sudah lahir sebelum NKRI merdeka. Besarnya organisasi Muhammadiyah ini terkadang menyebabkannya kesulitan untuk berlari kencang. Sehingga, posisi Muhammadiyah yang sudah berada jauh di depan ini bisa jadi akan segera disusul dan disalip oleh gerakan lain. Benar bahwa tidak boleh ada fanatisme golongan, gerakan, kesukuan, dan lain-lain. Namun bagi orang-orang yang meyakini bahwa gerakan Muhammadiyah adalah benar, ia harus memperjuangkan agar apa yang dibawa oleh Muhammadiyah ini diterima oleh seluruh manusia.

Faktanya, produk literatur dan media Muhammadiyah yang ditujukan untuk generasi milenial masih sangat sedikit. pemain literatur seperti Felix Siauw, Salim A Fillah, Salikhin Abu Izzudin, Habiburrahman El-Shirazi, Sayf Muhammad Isa, Burhan Shodiq, La Ode Munaffar, dan lain-lain tidak sama sekali berafiliasi ke Muhammadiyah, sekalipun beberapa ada yang diundang ke sebagian forum-forum Muhammadiyah. Kecuali Hanum Salsabila Rais yang merupakan kader biologis Muhammadiyah.

Pemain-pemain media seperti Hannan Attaki, Abdul Shomad, Adi Hidayat, Syafiq Reza Basalamah, Khalid Basalamah, Hawariyyun, Handy Bonny, Emha Ainun Najib, artis-artis hijrah, dan lain-lain juga sama sekali tidak berafiliasi dengan Muhammadiyah, kecuali Adi Hidayat.

Ini tentu menjadi pertanyaan besar bagi kader-kader milenial Muhammadiyah yang banyak berada di Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Pemuda Muhammadiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah. Bagaimana dengan ideologi Islam berkemajuan Muhammadiyah yang di yakini sebagai solusi bagi Indonesia hari ini tidak dapat tersebar dengan luas ke kalangan milenial yang jumlahnya begitu besar itu? Apakah Muhammadiyah sebentar lagi hanya akan menjadi fosil peradaban? wallahu a’lam bis showab.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *