ipmjateng.or.id, Surakarta – Tentu kita masih ingat dengan baik bahwa Al-Ashr School PW IPM Jateng yang pertama mengangkat tema Islamisme Populer, yang muaranya adalah bahwa dakwah milenial Muhammadiyah telah tertinggal jauh dibandingkan gerakan Islam yang lain. Kini PW IPM Jawa Tengah kembali mengadakan yang kedua kalinya sebagai bentuk konsisten dalam program yang telah dibuat dan sebagai ajang silaturrahmi antar sesama manusia serta kepedulian dalam hal literasi. 

Untuk Al-Ashr School yang kedua mengambil dengan tema “Mbien Aku Jek Betah Sue-Sue Wegah”. Pembicara dalam kegiatan tersebut adalah IPMawan Atha Zha Zha Zaky, Pengajar di Boarding School MTS Muhammadiyah 2 Karanganyar sekaligus Sekretaris Bidang Advokasi PW IPM Jawa Tengah dan Ananda Nizar, Alumni PR IPM SMA Muhammadiyah PK KottaBarat, Solo. Turut dihadiri oleh Siswa SMA Muhammadiyah PK KottaBarat, Solo dan Siswa SMA lain di lingkungan sekitar. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat, (18/10) bertempat di SMA Muhammadiyah PK KottaBarat, Solo.

Atta menyampaikan bahwa post-truth ini punya anak kandung bernama viral. mengapa bisa viral? karena disukai oleh orang banyak, sehingga ukuran kebenaran ini menjadi sangat relatif hari ini, yaitu diukur dari subjektivitas masing-masing orang”, Ujar Atta kepada seluruh audiens.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bahwa spirit pengajian ini menjadi sangat sedikit –untuk tidak mengatakan hilang sama sekali- di kalangan AMM, khususnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ketika kader-kader muda Muhammadiyah ini tidak gandrung dengan pengajian, muncul setidak-tidaknya dua kemungkinan. Pertama, Muhammadiyah akan kehilangan ruh.

Yang kedua, intelektual dan tokoh publik. Cak Nur – panggilan akrab Nurcholish Madjid- menggambarkan bahwa intelektual yang gagal mengemas pesan dengan baik akan ditolak oleh masyarakat. Gelombang hellenisme yang dibuat oleh Al-Kindi mendapatkan penolakan yang luar biasa hebat dari masyarakat karena pengemasan filsafat Yunani yang jauh sekali dari alam pikiran masyarakat, sangat bertolak belakang dengan fenomena hijrah anak muda hari ini. Bagi orang-orang yang membaca buku-buku Ali Shariati tentu tidak asing dengan hal ini, bahwa relasi intelektual dengan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun masyarakat. Dan tentu masih banyak faktor yang lain.

Yang terakhir, tidak pernah absen dari pembahasan hangat Al-Ashr School adalah tentang dakwah media Muhammadiyah yang begitu lesu. Hal ini yang dicoba dijawab oleh para pegiat Al-Ashr School dengan gerakan follow dan like akun Instagram resmi PW IPM Jateng terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan akun-akun dakwah yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah. Hal ini bukan lagi sebagai alternatif dakwah anak muda, namun sudah menjadi keniscayaan dan kewajiban bagi kader muda Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman. Kader-kader muda Muhammadiyah yang tersebar di seluruh negeri seharusnya dengan sangat mudah merebut pasar media di kalangan anak muda. *(Erico)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *