Oleh: Yusuf R. Yanuri

(Ketua PW IPM Jawa Tengah Bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan 2019-2021)

Tentu kita masih ingat dengan baik bahwa Al-Asher School PW IPM Jateng yang pertama mengangkat tema Islamisme Populer, yang muaranya adalah bahwa dakwah milenial Muhammadiyah telah tertinggal jauh dibandingkan gerakan Islam yang lain. Fenomena ini sering disebut dengan matinya dakwah kekinian Muhammadiyah.

Salah satu kredo yang sering diucapkan di Muhammadiyah berbunyi: “pengajian adalah ruh Muhammadiyah”. Artinya, kurang lebih, jika tidak ada pengajian maka Muhammadiyah hanya fisik tanpa nyawa, jasad tanpa ruh. Gedung-gedungnya saja yang tinggi dan besar, namun kosong dari tujuan dan nilai-nilai keutamaan. Sejauh ini, kredo ini masih terus diyakini dan dikampanyekan oleh beberapa tokoh Muhammadiyah.

Yang menjadi persoalan kemudian adalah bahwa spirit pengajian ini menjadi sangat sedikit –untuk tidak mengatakan hilang sama sekali- di kalangan AMM, khususnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Ketika kader-kader muda Muhammadiyah ini tidak gandrung dengan pengajian, muncul setidak-tidaknya dua kemungkinan. Pertama, Muhammadiyah akan kehilangan ruh.

Nurcholish Madjid, dalam bukunya Warisan Intelektual Islam dengan sangat baik membuat silsilah mata rantai keilmuan Islam sekaligus tarikan-tarikan wacana keilmuan pada setiap zamannya. Dengan menggambarkan silsilah mata rantai keilmuan tersebut, ia –sebagaimana yang dikatakan Hegel- ingin menegaskan bahwa setiap zaman memiliki kebenarannya masing-masing. “akal dunia” atau “ruh dunia” dalam teori Hegel itu berkembang pada setiap zaman. Kebenaran setiap zaman ditentukan oleh variabel yang cukup banyak. Yang pertama adalah rezim, Foucault menggambarkan fenomena ini dengan istilah knowledge is power. Jika Indonesia suatu saat dipimpin oleh orang-orang Hizbut Tahrir misalnya, maka Muhammadiyah yang mengakui Pancasila tentu akan dianggap sebagai organisasi sesat dan harus dibubarkan, sebagaimana dulu Kiai Dahlan dianggap.

Yang kedua, intelektual dan tokoh publik. Cak Nur –panggilan akrab Nurcholish Madjid- menggambarkan bahwa intelektual yang gagal mengemas pesan dengan baik akan ditolak oleh masyarakat. Gelombang hellenisme yang dibuat oleh Al-Kindi mendapatkan penolakan yang luar biasa hebat dari masyarakat karena pengemasan filsafat Yunani yang jauh sekali dari alam pikiran masyarakat, sangat bertolak belakang dengan fenomena hijrah anak muda hari ini. Bagi orang-orang yang membaca buku-buku Ali Shariati tentu tidak asing dengan hal ini, bahwa relasi intelektual dengan masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun masyarakat. Dan tentu masih banyak faktor yang lain.

Berangkat dari pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa Muhammadiyah beserta seluruh kebenaran yang ia bawa tidaklah abadi, Allah dalam surat Ar-Rohman mengatakan: kullu man ‘alaiha fann, wa yabqo wajhu Robbika dzul jalaali wal ikram. Semua yang ada di atas muka bumi itu akan hancur, tetapi wajah Tuhan yang mulia dan besar akan tetap kekal abadi.

Melihat matinya dakwah Muhammadiyah dalam hal pengajian di kalangan anak muda membuat kita berfikir, bahwa Muhammadiyah juga tidak abadi, dan suatu saat akan hilang. Bisa dengan organisasinya yang hilang, menyisakan ideologi Islam berkemajuan yang tetap hidup sebagaimana HTI hari ini, atau organisasi yang akan tetap gagah berdiri, namun tidak memiliki ruh dan nyawa, hanya tersisa gedung-gedung megah sebagai fosil-fosil sejarah peradaban manusia.

Kemungkinan kedua adalah bahwa akan ada pergeseran ruh Muhammadiyah. Bahwa pengajian yang massif di kalangan bapak-bapak dan ibu-ibu warga Muhammadiyah ini masih terus bertahan, namun tidak mampu menyentuh kader-kader muda Muhammadiyah. Bisa jadi, dan semoga harapan ini benar, bahwa ruh Muhammadiyah akan bergeser dari budaya pengajian menjadi budaya diskusi, riset, dan pengembangan seluruh aspek ilmu pengetahuan. Jika pengajian bersifat satu arah, guru-murid, da’i-mad’u, pembicara-pendengar. Maka diskusi yang agaknya cukup massif di kalangan kader-kader muda Muhammadiyah ini bersifat dua arah, peserta-fasilitator, pembelajar-pemandu diskusi, semua berbicara dan membaca untuk menemukan satu pengetahuan baru.

Jika ini yang terjadi, maka hal ini akan menjadi perkembangan positif bagi alam pikiran Muhammadiyah yang dikritik oleh Amin Abdullah melalui bukunya Fresh Ijtihad. Djazman Al Kindi misalnya membagi Muhammadiyah menjadi 3 elemen, yaitu organisasi, gerakan, dan pemikiran. Dan tiga elemen itu semuanya harus berkemajuan. Pemikiran yang berkembang dan berkemajuan dilakukan mulai dari hal-hal kecil dan sederhana, dimana hal ini sangat mungkin dimasifkan oleh kader-kader muda Muhammadiyah, seperti diskusi, riset, membaca, menulis, dan seterusnya. Yang barangkali hal ini dapat menjadi alternatif ketika pengajian konvensional itu tidak lagi diminati oleh anak-anak muda. Sekalipun penulis terus berharap dan berikhtiar agar ruh pengajian ini tidak pernah hilang.

Yang terakhir, yang tidak pernah absen dari pembahasan hangat Al-Asher School adalah tentang dakwah media Muhammadiyah yang begitu lesu. Hal ini yang dicoba dijawab oleh para pegiat Al-Asher School dengan gerakan follow dan like akun Instagram resmi PW IPM Jateng terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan akun-akun dakwah yang dimiliki oleh warga Muhammadiyah. Peserta Al-Asher School #2 secara berjamaah memfollow akun IPM Jawa Tengah dan berkomitmen akan terus menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang dibawa oleh Muhammadiyah melalui media.

Hal ini bukan lagi sebagai alternatif dakwah anak muda, namun sudah menjadi keniscayaan dan kewajiban bagi kader muda Muhammadiyah untuk menjawab tantangan zaman. Kader-kader muda Muhammadiyah yang tersebar di seluruh negri seharusnya dengan sangat mudah merebut pasar media di kalangan anak muda.

Sebagai closing statement, Atha Zha Zha Zaky, yang menjadi pemantik diskusi Al-Asher School #2 mengatakan “viral-viralkanlah IPM, jangan pengen viral di IPM!”


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *