Judul : Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam
Penulis : Ahmad Syafii Maarif
Jumlah halaman : 220 hlm

Di usia senjanya, Buya Syafii (panggilan akrab Ahmad Syafii Maarif) merasa semakin gusar dan resah dengan kondisi umat Islam yang terlempar ke buritan peradaban. Tulisan-tulisan ini berangkat dari kesenjangan yang  begitu luas antara idealita yang dituliskan oleh Alquran dengan realitas yang dikendalikan oleh umat Islam, khususnya tentang persatuan. Buku ini merupakan kumpulan tulisan Resonansi mingguan Buya di Harian Republika.

Perpecahan pertama yang dialami umat Islam adalah ketika perang Jamal meletus pada tahun 656 M. Di satu pihak ada Aisyah binti Abu Bakar yang dibantu oleh Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam, melawan Ali bin Abi Thalib di pihak lain. Konon, tokoh-tokoh perang yang tersebut diatas adalah sahabat-sahabat yang sama-sama dijamin masuk surga.

Tidak lama setelah itu meletus perang Shiffin yang juga merupakan perang internal umat Islam, antara Ali melawan Muawiyah, gubernurnya sendiri. Singkat cerita, dari perang inilah lahir tiga partai besar umat Islam yang tak pernah berdamai hingga hari ini: Sunni, Syiah, & Khawarij.

Sunni adalah para pengikut Muawiyah sekaligus pendukung setia dinasti Umayyah. Kelompok ini selalu menjadi mayoritas karena jumlahnya yang besar sekaligus kekuatan politiknya yang kuat. Syiah adalah pengikut setia Ali. Sejak dahulu mereka adalah minoritas yang selalu oposisi terhadap pemerintahan Sunni. Khawarij adalah mereka yang menolak peristiwa tahkim. Mereka memusuhi syiah maupun sunni dan menganggap bahwa dua kelompok tersebut telah kafir dan halal darahnya. Yang lebih aneh lagi adalah bahwa ada beberapa orang sunni yang menganggap orang syiah halal darahnya, sekaligus sebaliknya.

Perpecahan tiga partai Islam ini adalah murni perpecahan politik, dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan agama pada awalnya. Namun kemudian tiga partai ini pula yang melahirkan aliran-aliran teologi yang berbeda dalam Islam. Yang sampai tulisan ini dibuat, setiap kelompok terus-menerus melawan kelompok yang lain, ditunjang oleh sistem ekonomi politik yang mendukung perpecahan tersebut.

Berangkat dari latar belakang tersebut, ada beberapa hal yang ingin Buya sampaikan. Pertama, Buya Syafii dengan segenap ketulusan hatinya meminta kepada seluruh umat Islam untuk sesegera mungkin menghentikan semua bentuk kekerasan dan peperangan, terutama di tanah Arab. Bahwa pesan-pesan Alquran tentang persatuan telah digagahi dan dipecundangi, sama sekali tidak dihiraukan. Sehingga Buya sering mengatakan bahwa sekarang sudah tidak ada lagi persatuan. Sama sekali tidak ada.

Krisis Arab di Suriah, Yaman, Irak, Palestina, dan lain-lain seperti lingkaran setan yang tak kunjung usai. Secara umum, wilayah pusat (central) seharusnya lebih unggul dan lebih maju daripada wilayah pinggiran (periphery). Islam yang menyebar dari Arab ke daerah lain justru menimbulkan gejala yang berbeda. Arab sebagai pusat persebaran Islam justru menjadi lautan darah yang tak kunjung surut, namun semakin pasang. Konflik sunni-syiah, keangkuhan teologis, syahwat politik, dan egoisme tribal harus segera disingkirkan jauh-jauh, untuk kemudian melihat kembali apa yang menjadi perintah dari Alquran, yaitu wa’tashimu bi hablillahi jamii’a wa laa tafarroqu (berpegang teguhlah dengan agama Allah dan jangan berpecah belah).

Yang kedua, Buya memiliki harapan besar terhadap negeri yang ia cintai dengan sepenuh hati, Indonesia, agar tidak terseret arus perpecahan yang tuna moral dan tuna etika di dunia Arab. Ia berpesan agar Alquran menjadi hakim tertinggi dalam menghadapi perpecahan umat. Umat Islam di Indonesia harus kembali membaca Alquran, melihat pesan-pesannya, dan menerapkannya dengan jujur, tulus, dan tanpa kepentingan apapun kecuali mengabdi kepada Allah semata.
Bahwa Indonesia sebagai wilayah pinggiran justru menjadi harapan besar banyak tokoh Islam untuk menampilkan wajah Islam yang humanis, moderat, dan autentik sebagai antitesa dari Islam yang penuh konflik di Arab. Hal ini juga yang menjadi harapan sekaligus ramalan Fazlur Rahman, salah satu tokoh yang pernah menjadi guru Buya ketika berada di Chicago, yang dituliskan dalam bukunya Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition.

Yang ketiga, Buya menyeru kepada tokoh Islam di dunia Arab maupun non-Arab, kepada raja-raja, presiden, perdana menteri, ulama, dan masyayikh untuk segera keluar dari kotak-kotak politik warisan perang Shiffin dan warisan tribalisme Arab yang lain. Bahwa identitas sunni-syiah-khawarij harus segera ditinggalkan, mengingat pesan Alquran adalah pesan wa’tashimu bi hablillah, berpegang tegung dengan agama Allah, bukan agama Muawiyah, bukan agama Ali, bukan agama sunni, syiah, maupun khawarij.

Semua tokoh masyarakat harus merendahkan ego, merendahkan kepentingan kelompok, merendahkan gengsi suku, merendahkan kepentingan partai, dan meninggikan pesan universal Alquran untuk tidak saling berpecah belah.

Jika seruan muadzin bangsa dari Makkah darat ini tidak dihiraukan, maka barangkali Islam akan terus-menerus berada di buritan peradaban dan menjadi ekor dari keangkuhan Barat. Slogan-slogan khoiru ummah hanya akan terasa manis di telinga untuk kemudian ditertawakan oleh orang-orang zionis dan Amerika. Islam akan terus-menerus identik dengan peperangan, kemiskinan, keterbelakangan, korupsi, dan semacamnya. Dan Barat akan semakin gagah mengendalikan buih di laut lepas untuk dijadikan mainan dan hiburan mereka. Clash of civilization (teori benturan peradaban) Samuel Huntington benar,  dan Islam menjadi seperti gadis yang diperkosa oleh Barat, kemudian di buang di sungai dalam keadaan telanjang, seperti kasus yang sering kita lihat di Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di seluruh muka bumi.

“Para ulama pun sibuk dengan ajaran-ajarn normatif yang tergantung tinggi di langit, sedangkan massa muslim yang berserakan terkapar di muka bumi. Mereka kehilangan kompas dan sebagian besar hidup dalam lautan kemiskinan dan kesengsaraan. Pesan-pesan Alquran sudah dianggap sebagai angin lalu saja oleh bangsa-bangsa kaya di kalangan umat Islam yang suka sekali bersengketa”
-Ahmad Syafii Maarif

*Penulis : Yusuf R. Yanuri (Ketua PW IPM Jawa Tengah Bidang Pengembangan Kreativitas dan Kewirausahaan periode 2019-2021)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *