Oleh : Atha Zha Zha Zaky (Sekretaris Bidang Advokasi PW IPM Jawa Tengah)

Setahun lalu saat forum fortasi dalam salah satu SMP di daerah, saya masih bisa mengidentifikasikan diri saya agak lebih tua dari peserta fortasi dengan mengatakan, saya suka musik campursari ala didi kempot. Hal itu diamini peserta dan rekan saya kala itu. Bagaimana tidak, setahun lalu campursari ala didi kempot lekat dengan generasi tua, bapak-bapak kondangan, atau musik leyeh-leyeh di pos ronda sembari menenggak kopi. Hanya segelintir anak muda yang suka dengan campur sari.

Namun hari ini, didi kempot menjadi ikon sakit hati nasional, dengan berjuluk the godfather of broken heart. Lord didi kempot merajai suasana kebatinan paska sakit hati anak muda dengan lagu-lagunya. Siapa sangka, waktu setahun mengubah image yang lekat dengan orang tua menjadi sangat milenial. Perhari ini siapa anak muda yang tak tahu didi kempot, dan segala lagunya. Lord didi bangkit mendaki puncak karirnya, dengan ditandai wajahnya yang sering muncul di siaran televisi, atau namanya yang hangat diperbincangkan media. Lord didi berhasil membuat kita merayakan patah hati, secara gembira dan bersama. Hal yang tidak kita dapat dari hari libur nasional manapun.


Musik koplo, dari kampung ke panggung
Perjalan lagu didi kempot dan sosoknya yang menjadi bapak patah hati nasional, bukan tanpa sebab. Sebelum didi kempot lebih tenar dewasa ini (karena sebelumnya beliau sudah tenar, dengan predikat pencipta lagu paling produktif), lagu-lagu yang beliau ciptakan sudah lebih dulu dipopulerkan ke anak muda lewat jalur dangdut koplo. Juga anak cabangnya macam hip hop dut, atau reggae dut. Lagu ciptaan didi yang menceritakan patah hati dan cinta dengan ribuan varianya memang cocok untuk dinyanyikan dengan musik koplo. Maka tak heran bila didi naik daun seiring dengan maraknya musik koplo di kalangan anak muda.

Musik dangdut koplo, lahir di daerah lokalisasi di Surabaya. musik yang berciri ritme cepat, dan hentakan kendang yang bersemangat membuat pendengar berjoget beringas semacam habis menenggak pil koplo. Dari situlah muncul nama besar Inul Daratista, dan dewasa ini Via Vallen serta Nella Karisma yang namanya tak lagi asing bagi kawula muda. Bukan tanpa halangan, sang raja dangdut Roma Irama sempat berang mendengar musik dangsut koplo ini, “dangdut yang dangdut, koplo ya koplo”, ujarnya. Sehingga muncul gerakan kembalikan musik dangdut ke pakemnya kala itu. Namun sebagai sebuah budaya yang muncul dari kalangan bawah, musik koplo terus berkembang bersama masyarakat hingga saat ini.

IPM dari dicegah sebelum berdiri, hingga menjadi anak bungsu Muhammadiyah
Dari kisah perjalanan dangdut koplo diatas, ada hal-hal yang bisa kita pelajari. Salah satunya adalah begitu cepat trens di kalangan milenial berkembang. Apa yang digandrungi masyarakat bulan ini, bisa jadi enam bulan kedepan sudah berubah drastis. Begitulah dunia saat ini. Penulis mencoba menelisik sejarah berdirinya ikatan kita tercinta ini. Jauh sebelum 18 Juli 1961, upaya pendirian wadah bagi pelajar Muhammadiyah sudah muncul sejak tahun 1919 lewat Siswo Projo di Yogya, GKPM (Gabungan Keluarga Pelajar Muhammadiyah) tahun 1926 di Malang dan Surakarta, 1950 di Sulawesi berdiri pula Ikatan Pelajar Muhammadiyah Selanjutnya pada tahun 1933 berdiri Hizbul Wathan yang di dalamnya berkumpul pelajar-pelajar Muhammadiyah. Setelah tahun 1947, berdirinya kantong-kantong pelajar Muhammadiyah untuk beraktivitas mulai mendapatkan resistensi dari berbagai pihak, termasuk dari Muhammadiyah sendiri. Pada tahun 1950, di Sulawesi (di daerah Wajo) didirikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah, namun akhirnya dibubarkan oleh pimpinan Muhammadiyah setempat.

Pada tahun 1954, di Yogyakarta berdiri GKPM yang berumur 2 bulan karena dibubarkan oleh Muhammadiyah. Selanjutnya pada tahun 1956 GKPM kembali didirikan di Yogyakarta, tetapi dibubarkan juga oleh Muhammadiyah (yaitu Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah). Setelah GKPM dibubarkan, pada tahun 1956 didirikan Uni SMA Muhammadiyah yang kemudian merencanakan akan mengadakan musyawarah se Jawa Tengah. Akan tetapi, upaya ini mendapat tantangan dari Muhammadiyah, bahkan para aktivisnya diancam akan dikeluarkan dari sekolah Muhammadiyah bila tetap akan meneruskan rencananya. Pada tahun 1957 juga berdiri IPSM (Ikatan Pelajar Sekolah Muhammadiyah) di Surakarta, yang juga mendapatkan resistensi dari Muhammadiyah sendiri.

Sejatinya resistensi dari berbagai pihak termasuk Muhammadyah sendiri, terjadi karena kondisi sosial politik bangsa saat itu dengan adanya deklarasi panca cita yang salah satu pointya berbunyi “satu gerakan pelajar Islam, yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII)”. Dan kedua karena Muhamamdiyah menganggap gerakan pelajar sudah cukup dalam kantong Pemuda Muhamamadiyah. Namun dengan semangat dan kegigihan pelajar-pelajar Muhammadiyah kala itu, IPM dapat berdiri dan berkembang hingga saat ini, menjadi salah satu tonggak pertama perkaderan di Muhammadiyah juga tangan dakwah di kalangan pelajar. (baca lebih lanjut di buku ideologi IPM).

Antara Bang Roma, dan Lord Didi
Kondisi di internal IPM hari ini, juga cukup unik. IPM sebagai organisasi dakwah dan sosial di kalangan pelajar yang mainstream mulai harus berhadapan dengan komunitas-komunitas baru dan segar. Di lini dakwah misalnya, muncul gerakan-gerakan baru yang menawarkan ketenangan jiwa dengan hijrah, atau gerakan-gerakan nyunnah yang mulai ngetren bagi anak muda yang bersifat konservatif, namun lihai di media juga menawarkan kebenaran hakiki versi mereka. Di lini gerakan sosial, muncul komunitas-komunitas anak muda yang bergerak pada gerakan advokasi, filantropi, juga pendampingan masyarakat yang fokus. Di lini pencerdasan juga muncul banyak komunitas literasi yang asyik di kalangan milenial.

Dari sini, sejatinya sosok bang Roma dan lord Didi bisa menjadi ibroh bagi kita. apakah kita akan menjadi bang Roma yang kekeh dengan pakemnya dan kemudian mulai redup pamornya digantikan dengan dangdut koplo. Apakah kita bisa menjadi lord didi yang mengerti kondisi dan menjadikan dangdut koplo sebagai jalan untuknya menuju puncak karir?.

IPM sebagai gerakan tengahan
Secara agak nakal, penulis menemukan secuil kesamaan antara berkembangnya music dangdut koplo dan berdirinya IPM.(tentunya bukan dengan maksut merendahkan IPM sebagai gerakan dakwah). Yaitu sama-sama mendapat resisntensi saat awal berdiri. Musik koplo mendapat resintensi dari bang Roma yang saat itu adalah raja dangdut. Music koplo dianggap tidak mencerminkan dangdut dan bersifat seronok. IPM mendapat resintensi dari Muhammadiyah karena kondisi politik saat itu. Namun nyatanya kedua hal ini masih berkembang hingga sekarang. Kita bisa belajar untuk bertahan perlu kegigihan, inovasi dan mengerti kondisi masyarakat.

Musik koplo terus berkembang, juga didukung oleh kebutuhan alternatif hiburan oleh milenial kelas menengah. Bagaimana tidak, musik koplo berhasil mengubah lirik-lirik seidh menjadi jogetan. Apapun kondisinya tetap joget. Selain itu, apapun genre sebuah lagu, tetap saja bisa di koplo. Misalnya rock, jaz, pop, hip hop, blues, bahkan music religi, nasyid, dan lagu-lagu barat atau korea tetap enak bila di koplo. Dangdut koplo bukan hanya menjadi sebuah genre music baru, namun menjadi payung bagi segala jenis musik. Terlepas dari berbagai kontra di dalamnya.

Kita sebagai anak kandung Muhammadiyah tentunya tidak bisa terlepas dari posisi yang diambil Muhammadiyah sebagai gerakan tengahan (washatiyah). Posisi semacam ini nampaknya mirip-mirip dengan musik koplo yang mampu memayungi berbagai genre musik dan memberikan ciri khas koplo didalamnya. Muhammadiyah tentunya dengan IPM di dalamnya yang mengambil posisi tengahan, sejatinya mampu memayungi berbagai macam gerakan islam yang mulai bermunculan saat ini. Posisi Muhammadiyah yang tidak radikal juga tidak liberal mampu menjadi wadah besar bagi umat Islam.

Ada kata-kata menarik yang sering diposting dalam grup-grup Muhammadiyah di media

“Tarbiyah bisa kembali ke Muhammadiyah, karena Muhammadiyah bertabligh lewat majelis tabligh
Salafi bisa kembali ke Muhammadiyah, karena Muhammadiyah berdasar Al-Qur’an dan Sunnah
HTI bisa kembali ke Muhammadiyah, karena Muhammadiyah berusaha membentuk masyarakat islam yang sebenar-benarnya
FPI juga bisa kembali ke Muhammadiyah, karena Muhammadiyah ber amar ma’ruf nahi munkar”

Dalam hal ini, kita juga bisa memilh akan bertarung identitas atau mampu menjadi wadah dari gerakan islam lain tanpa kehilangan jati diri kita, sebagai mana musik dangut koplo memberi sentuhan koplo ke segala genre musik. Kalau ada ungkapan “Semua akan koplo pada waktunya”, maka bolehlah saya mengatakan “semua akan Muhammadiyah pada waktunya”.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *