GAl-Ashr’s School jilid 3 dengan tema Rebranding Ranting Unggulan telah dilaksanakan selasa, 11 November 2019 di SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo. Cukup menarik untuk mengulas terkait dialektika yang terjadi dalam forum tersebut karena terjadi harmonisasi dan tukar fikiran antara pemateri dan peserta.
Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang kini berusia 58 tahun, tentu selama 58 tahun ini IPM senantiasa mendapat tantangan di setiap zaman untuk mewujudkan tujuanya yakni “terbentuknya pelajar muslim yang berilmu, berakhlak mulia, dan terampil dalam rangka menegakkan, menjunjung tinggi nilai-nilai ajaran islam sehingga terwujudna masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” (Anggaran Dasar IPM Pasal 6). Dari tujuan ini tentu memiliki konsekuensi logis bahwa IPM akan berusaha untuk memanifestasikan dalam sebuah karya nyata sehingga tentu dapat ikut serta memajukan persyarikatan dan bangsa.
Dewasa ini IPM selalu mendapat aral tantangan yang melintang, dinamika-dinamika ikatan dan keumatan senantiasa berubah mengikuti zaman. Seperti kita tahu bersama bahwa zaman milenial ini memiliki perbedaan yang kontras dengan sebelumnya. Zaman milenial memiliki tantangan ang bisa datang dari manapun misal pergeseran nilai-nilai budaya, moral, kebangsaan dan lain sebagainya. Sebagai contoh bahwa beberapa waktu yang lalu terdpat berita yang viral ada anak sekolah yang dating ke sekolah membawa celurit hanya karena dilarang bermain game dan hpnya disita oleh gurunya sehingga siswa tersebut menjadi kalang kabut. Tentu ini sangat memprihatinkan dan menjadi perhatian nasional terkhusus organisasi kepemudaan, salah satunya IPM.
Ketika berbicara zaman milenial salah satu hal yang mencolok adalah mudahnya mengakses informasi melalui dunia maya. Media informasi yang dulunya terbatas sekarang menjadi sangat fleksibel dan bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun. Tentu saja hal ini memiliki ekses 2 kutub yang berlawanan, apabila bijak menggunakan maka kebermanfaatan yang hadir, tetapi bila disalah gunakan akan menibulkan ekses negatif. Dari fakta sosial tersebut kiranya IPM kedepan harus memiliki hal baru yang ditawarkan dan di aktualisasikan untuk menanggulangi badai fenomena social yang menuju ke arah pembusukan.
Maka ada beberapa hal yang darus dipahami oleh IPM terutama di tataran grassroot yakni cabang, ranting bahwa di masa modern ini harus terdapat inovasi baru untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam yang bias diterima dengan lapang di khalayak.
Dakwah Milenial
Dakwah adalah cara untuk mensyiarkan agama Allah akni dengan menyampaikan sariat islam kepada khalaak dengan harapan akan menambah ketakwaan kepada Allah swt. Dakwah di IPM menurut penulis sudah lumayan bagus tetapi ada hal-hal yang harus dikembangkan untuk mengefektifkan dakwah IPM. Bahwa selama ini penulis melihat dakwah IPM di beberapa wilayah hanya bersifat konvensional yakni sebatas menyampaikan secara lisan dan terbatas pendengarnya. Tentu hal ini sangat tidak nmilenial, karena bila kita menilik fasilitas yang ada, IPM seharusnya bisa berbuat yang lebih banyak. Kita harus mencontoh dakwah kawan hijrah sebelah yang memang menurut penulis metodenya cukup berhasil dengan video-video ceramah singkatnya. Hal ini bias dilihat dengan gambling, jika kita menilik akun ig @shiftmedia.id dengan pengikut 1,9jt padahal media ini tidak memiliki basis nasa yang jelas. Lalu ketika kita bandingkan dengan ig PP IPM yang memiliki pengikut 30,8 ribu. Bisa kita lihat perbedaan yang kontras, padahal IPM memiliki masa yang jelas yakni di sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Indonesia. Maka dari itu kiranya perlu diadakan inovasi baru dalam berdakwah untuk IPM di segala tingkatan. Penulis rasa tidak akan menjadi masalah apabila IPM mengadopsi ini. Hal ini sejalan dengan yang Kyai Haji Ahmad Dahlan lakukan zaman dahulu. Bahwa K. H. Ahmad Dahlan menggunakan metode mengajar orang belanda yang saat itu sangat tabu untuk dilakukan.
Literasi Everywhere Everytime
Indonesia dengan minat baca yang minim tentu sangat memprihatinkan. Menurut surve dari unesco, masyarakat Indonesia memiliki minat baca 0,001 artinya dari 1000 orang hanya 1 yang memiliki minat untuk membaca. Tentu saja ini sangat memprihatinkan. Apabila kita tarik garis menuju pelajar kondisi ini juga sangat mengkhawatirkan karena pelajar yang berada di lingkungan-lingkungan kependidikan seharusnya menjadi kawah candra dimuka untuk menempa diri sehingga harapanya kedepan mampu bersaing untuk memperjuangkan hidup. Tetapi realitanya sekarang pelajar justru minim untuk memiliki kebiasaan yang bagus yakni membaca, kebanyakan pelajar malah disibukkan dngan smartphone entah itu untuk brsosial media ataupun bermain game.
Dari fenomena social ini IPM harus mampu mengkampanyekan Gerakan-gerakan literasi di segala tingkatan. Membaca tidak harus selalu buku yang berbentuk kertas tetapi sekarang banyak sekali buku-buku PDF tersedia menanti untuk dibaca. Hal ini tentu saja beralasan karena ketika seseorng memiliki isi otak yang kosong maka ide-ide kreatif akan sukar untuk muncul. Ide kreatif kan berkembang subur apabila wacana dari seseorang kuat. Kita seharusna mampu meneladani cendikiawan muslim zaman dahulu seprti Ibnu Rusyd yang menguasai beanyak sekali disiplin ilmu dari filsafat, fikih, kedokteran dan lainya. Dari contoh tersebut pelajar khusunya IPM harusnya dapat mengambil spirit-spirit oara ulama zaman dahulu yang siang malam berjibaku dengan ilmu pengetahuan sehingga dapat menghasilkan sebuah karya-karya yang dikui dunia.
Pelajar Kolaboratif
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Begitu pula dengan organisasi terkhusus IPM, bahwa IPM akan lebih jauh berkembang apabila dalam perkembanganya menggandeng dan berkolaborasi bersama pihak-pihak terkait seperti dinas kepemudaan, organisasi kepemudaan lain, dan lain sebagainya. Hal ini perlu ditekankan karena selama ini muncul beberapa pandangan ipmsentris atau maksutna kegiatan-kegiatan IPM hanya teruntuk kader IPM itu sendiri dan kurang memasyarakat. Maka mari memulai Gerakan-gerakan baru dengan menggandeng segala pihak agar tercipta masyarakat baldatun thoibatun wa rabbun ghoffur. (Oleh : Ivan Nur Rohman R.)

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *