Judul : Tugas Cendekiawan Muslim
Penulis Dr. Ali Syariati
Penerjemah : Prof. Amin Rais
Penerbit: Shalahuddin Press
Jumlah hlmn : 216

Sebuah buku yang sangat luar biasa dan menunjukkan bagaimana islam pernah memiliki salah seorang tokoh intelektual zaman modern yang begitu hebat melalui gagasan-gagasan yang dituangkannya. Ali Syariati, seorang intelektual muslim kenamaan asal Iran yang telah melahirkan pemikiran-pemikiran islam progressif. Progressif dalam konteks ini meskipun sama-sama memunculkan gagasan anti kemapanan untuk selalu menuju tatanan masyarakat ideal dengan Marxisme, namun bukan berarti pemikiran-pemikiran Ali Syariati berintikan nafas marxisme. Sebaliknya, Ali Syariati justru mengkritisi banyak gagasan-gagasan marx tentang merubah tatanan masyarakat. Salah satu bukunya yang paling fenomenal ialah Tugas Cendekiawan Muslim yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. Amien Rais.

Buku Tugas Cendekiawan Muslim ini tersusun dari 7 bab : Manusia dan Islam, Pandangan Dunia, Empat Penjara Manusia, Piramid Sosiologi Kebudayaan, Penggalian dan Penyaringan Sumber-sumber Kebudayaan, Ideologi, dan Peranan Kaum Intelektual dalam Islam. Buku ini disusun secara rapi dimana penulis mencoba menciptakan alur berfikir dari hal paling mendasar tentang hakikat manusia hingga peranannya menjadi khalifah dimuka bumi.

Pada bab pertama, dalam bahasan Manusia dan Islam, Ali Syariati mencoba menggambarkan hakikat manusia yang erat kaitanya dengan kebermanfaatnya dimuka bumi ini sesuai dengan Islam yakni Rahmatan lil Alamin. Ali Syariati juga sedikit menyentuh pembahasan mengani humanisme yang mulai menghilang dari pemahaman manusia modern ini. Al syariati, menggambarkan manusia ini memiliki 2 kutub yang berlawanan yakni positif dan negatif. Manusia akan di pandang sebagai substansi positif apabila dapat mengemban amanah yang diberikan Tuhan melalui kumpulan ayat-ayat yang termaktub di dalam Al-quran. Sebaliknya, manusia akan menjadi substansi yang merusak jika keluar dari garis-garis yang telah digariskan Tuhan dalam firman-Nya.

Pada bab kedua, Ali Syariati mencoba untuk menggambarkan pandangan dunia(vision de monde) yang dibahas secara filosofis, sosiologis, dan antropologis. Pada bab ini syariati coba mengkritik pandangan-pandangan yang muncul didunia barat yang menurutnya absurd dan tidak jelas karena hanya berbicara seputar materialisme yang sifatnya fana.

Dalam bab ketiga, Ali Syariati membahas hal-hal apa saja yang menghalangi manusia bergerak dinamis menuju arah kesempurnaan. Menurut Ali Syari’ati ada empat penjara yang menghalangi manusia ke arah gerak dinamis menuju tahap kesempurnaan. Keempat penjara tersebut, adalah ; alam, sejarah, masyarakat, dan ego. Hukum alam yang dipahami secara determinisme-mekanistik dapat menjadi penghambat bagi manusia dalam tahapan evolusinya. Karena ketidakmampuan manusia “mengontrol” alam bahkan merusak mengakibatkan kehidupan manusia menjadi tidak efektif dan efisien. Sejarah yang merupakan peristiwa masa lalu dapat menjebak manusia pada hukum-hukum determinisnya. Rangkaian peristiwa masa lalu yang terjadi apabila selalu dijadikan sebagai pegangan tanpa ada kemauan untuk berfikir maju, menurut Syariati akan menjebak manusia dari pandangan-pandangan maju yang bersifat futuristik. Hukum dan budaya masyarakat yang cenderung stagnan akan menghambat kemajuan peradaban sehingga melemahkan manusia itu sendiri dalam proses kemajuannya. Sedangkan ego, sebagaimana dalam tinjaun kaum psikoanalisis atau kaum hedonis akan membuat manusia menjadi suatu substabsi yang hanya memikirkan keinginanya sendiri sehingga melupakan keinginan ilahiah untuk mengelola bumi ini.

Dalam bab ke-4, Ali Syariati mencoba untuk menyampaikan pandangannya sebagai seorang sosiolog sekaligus sejarawan yang secara spesifik mendalami sejarah peradaban dan agama-agama. Dalam bab ini beliau mencoba untuk menggambarkan bagaimana terjadinya perubahan-perubahan intelektual dan historis dalam berbagai tahap sejarah. Berkaitan dengan hal tersebut Ali Syariati mencoba untuk menggambarkan bagaimana terjadi perubahan karakteristik kaum intelektual atau cendekiawan yang disebabkan oleh perubahan kultur, kondisi sosial, religi, dan sebagainya. Pada bagian ini, beliau menggambarkan secara historis intelektual muslim timur yang banyak belajar ke barat tetapi seakan kehilangan ketimuranya sehingga melupakan jati dirinya. Akhirnya, syariati menganjurkan untuk menjadi pengembang apa yang sudah dimulai oleh barat, bukan menjadi peniru barat.

Pada bab 5 menjadi langkah tindak lanjut bagi para cendekiawan timur. Pada bab ini dibahas bagaimana para cendekiawan timur seharusnya tidak hanya mengguru kepada barat dan hanya menerjemahkan gagasan-gagasan hasil olahan para pemikir-pemikir barat. Akan tetapi cendekiawan timur harusnya mencoba menggali sumberdaya yang ada di timur, mengembangkan khazanah pemikiran falsafah, sastra dan sebagainya. Karena seperti kita tahu bahwa dimasa lalu islam pernhah berjaya dengan segala ilmu pengetahuanya.

Selanjutnya, pembahasan beranjak ke bab-6 yang berkaitan dengan ideologi. Pada bab ini Ali Syariati di awal pembahasan mencoba untuk menggambarkan perbedaan antara ideologi, ilmu, dan filsafat. Ideologi didefinisikan sebagai pemikiran, gagasan, konsep, atau ilmu tentang keyakinan dan cita-cita. Secara sederhana pada konteks ini, seorang ideolog digambarkan sebagai seorang yang membela atau meyakini suatu keyakinan tertentu. Ilmu dalam konteks ini didefinisikan sebagai citra pemikiran manusia tentang alam yang kongkret dan merupakan penemuan manusia tentang beberapa hubungan, suatu prinsip, karakteristik kehidupan manusia, dan sebagainya. Sementara filsafat dalam konteks ini didefinisikan sebagai suatu upaya pencarian ke arah pemahaman sesuatu yang bersifat umum dan belum diketahui serta dijangkau oleh ilmu. Perbedaan mendasar antara ideologi dengan ilmu dan filsafat adalah terletak pada keberpihakan. Biar bagaimanapun ideologi tidak akan bebas nilai. Pada poin inilah yang menyebabkan munculnya keberpihakan dalam ideologi sehingga seseorang yang berideologi dapat dikatakan memiliki keyakinan, tujuan atau kepentingan tertentu. Setelah membahas masalah perbedaan-perbedaan tersebut, bahasan selanjutnya terkait dengan kritik-kritik terhadap kondisi ideologi masyarakat Iran dan terhadap ideologi-ideologi barat. Dalam bahasan ini dijelaskan juga bahwasanya ilmuan dan filsuf bukanlah ideolog. Seorang ideolog haruslah memiliki tujuan dan kepentingan tertentu yang didasarkan atas kesadaran-kesadaran khsusus seperti kesedaran kelas, kesadaran intelektual, dan sebagainya yang terus berproses menuju kesadaran ideologis. Dalam bagian ini juga diperkenalkan adanya konsep rhousan fikr yang menjadi cendekiawan/intelektual yang menggerakkan masyarakat.

Pada bagian terakhir dari buku ini, Ali Syariati mencoba menjelaskan lebih spesifik sekaligus praktikal tentang bagaimana seharusnya seorang intelektual muslim berperan di masyarakat. Pada intinya, Ali syariati mengatakan bahwa cendekiawan muslim harus menggali dan memberi perannya di masyarakat sehingga dapat menuju progresifitas. Cendikiawan muslim haruslah menjadi thinker di masyarakat yang serba buth kemajuan ini.

Ali Syariati merupakan seorang cendikiawan muslim yang mendapat gelar Doktor dibidang sosiologi dan filsafat. Ali syariati juga merupakan seorang revolusioner Iran karena darinya banyak gagasan-gagasanya yang dijadikan rujukan dalam revolusi Iran. Ali Syariati, seorang intelektual muslim kenamaan asal Iran yang telah melahirkan pemikiran-pemikiran islam progressif. Progressif dalam konteks ini meskipun sama-sama memunculkan gagasan anti kemapanan untuk selalu menuju tatanan masyarakat ideal dengan Marxisme, namun bukan berarti pemikiran-pemikiran Ali Syariati berintikan nafas marxisme. Sebaliknya, Ali Syariati justru mengkritisi banyak gagasan-gagasan marx tentang merubah tatanan masyarakat. Salah satu bukunya yang paling fenomenal ialah Tugas Cendekiawan Muslim yang pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dr. Amien Rais.

Buku Tugas Cendekiawan Muslim ini tersusun dari 7 bab : Manusia dan Islam, Pandangan Dunia, Empat Penjara Manusia, Piramid Sosiologi Kebudayaan, Penggalian dan Penyaringan Sumber-sumber Kebudayaan, Ideologi, dan Peranan Kaum Intelektual dalam Islam. Buku ini disusun secara rapi dimana penulis mencoba menciptakan alur berfikir dari hal paling mendasar tentang hakikat manusia hingga peranannya menjadi khalifah dimuka bumi.

Buku ini menjadi khazanah Islam yang sangat layak dibaca karena mencoba menhantarkan pembaca menuju pemaham Islam yang kaffah dimulai dari hakikat manusia di bumi hingga peran manusia ini dalam mengemban tugas yang diberikan Tuhan untuk menjadi khalifah fill ard.

*)Penulis : Ivan Nur R. (Ketua Umum PD IPM Kab. Jepara 2017 – 2019)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *