“Kalau gag gelem maem di gigit pepeh lo ndug, ayo maem”
“Ndug, yen dolan neng sawah digondol pepeh loo”

Ujar seorang ibu saat berusaha menyuapi anaknya yang terus berlarian kesana kemari di pinggir sawah dekat rumah. Aku terdiam sejenak, menggali lagi memori tentang sosok “pepeh” yang diucapkan berulang kali oleh ibu tadi untuk mengancam anaknya agar mau makan. Aku ingat pepeh adalah manusia biasa, bukan jenis dedemitan atau mitos di daerah ku. Dia hanyalah pria paruh baya biasa, warga di RW kami, rumahnya di pojok RW berbatasan langsung dengan kali. Hanya saja dia istimewa, beliau mengalami kesusahan dalam mengucap kata karena kelainan di lidahnya, sehinga cuma bisa berkata “hmmm, hmm” . Ya dia penyandang disabilitas.

Pepeh ini sejatinya seorang baik baik. Tidak pernah mengganggu warga, bahkan kadang kali beliau dimintai tolong membetulkan genteng bocor, atau memasang lampu. Namun, entah siapa yang memulai. Terkadang beberapa orang tua menjadi kan namanya sebagai ancaman untuk anaknya agar tak berbuat aneh-aneh, semacam main di kali, sawah ataupun ketika ngeyel dengan perintah orang tua. Dan pada akhirnya ancaman semacam itu menjadi lumrah di masyarakat. Menjadi hal yang wajar dan tidak ada yang merasa bersalah. Terkadang aku berfikir bagaimana perasaan pepeh bila mendengar ibu ibu mengucap ancaman semacam itu pada anaknya. Atau setidaknya pernah kah orang berfikir apa dampak pada anak bila sering diancam begitu.

Agak miris memang, di era modern saat ini, masih menjamur argumen tidak rasional untuk menasihati anak kecil. Terlebih lagi menggunakan nama seseorang yang dianggap aneh karena berbeda atau memiliki riwayat berkelakuan buruk. Program program ramah difabel nampaknya belum menyentuh alam pikiran masyarakat yang masih melegalkan pembullyan terhadap penyandang disabilitias, hanya karena mereka berbeda. Belum siapkah kita sebagai masyarakat menerima perbedaan yang ada ???

Banyak sekali budaya dan kebiasaan baik yang ada di masyarakat. Gotong royong, tenggang rasa, sopan santun, dan lain sebagainya yang perlu dilestarikan. Namun beberapa kebiasaan dan budaya buruk semacam kelumrahan membully karena berbeda harus di hapuskan. Orang-orang yang berbeda baik secara fisik atau perilaku sejatinya sudah memiliki kesulitan bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Apalagi ditambah dengan bullyan yang berulang ulang. Paling minimal orang yang dibully akan minder ketika bermasyarakat sampai dampak besarnya bisa berujung pada perundungan, penganiayaan, bahkan pengusiran dan tindakan diskriminasi lainya bila bully an sudah parah dan menahun.

*) Guyonan yang berujung diskriminasi

Selain pembullyan yang dianggap lumrah pada penyandang disabilitas, ada juga beberapa guyonan yang bisa dikategorikan pembullyan yang dapat berujung pada diskriminasi. Salah satunya guyonan seksist. Agak asing mungkin di telinga kita, namun guyonan seksist dapat digolongkan juga sebagai pelecehan verbal semacam bersiul atau menggoda dan mengomentari fisik seseorang yang berbeda jenis kelamin nya dengan kita. Hal ini memang agak jarang di tataran pelajar apalagi di IPM sebagai organisasi Islam yang berbasis massa pelajar. Namun penulis beberapa kali menemui guyonan seksis yang dilontarkan pelajar ataupun anggota IPM. Bisa jadi karena sudah akrab atau memang hal semacam itu dianggap lumrah di lingkungan itu. Misalnya, mengaitkan seseorang dengan tempat prostitusi, mengomentari fisik seseorang secara berlebihan ataupun guyonan dan ujaran lain yang bersifat seksual, merendahkan suatu jenis kelamin atau komentar-komentar yang merendahkan harkat sebagai perempuan ataupun laki-laki.

Sia sia sekali rasanya kita berwacana tentang kesetaraan gender, memunculkan diskusi diskusi tentang gender atau feminisme namun belum mampu mencegah guyonan seksis yang langgeng di lingkungan kita. Padahal IPM sedikit banyak sudah mencerminkan gerakan Islam yang memperhatikan kesetaraan gender. Sebagai contoh dengan terpilih nya beberapa ipmawati menjadi pemimpin. Kalau dulu Muhammadiyah memunculkan Aisyiyah sebagai gerakan wanita muslim moderat yang berhasil mengentaskan pemahaman wanita cuma terkait pada dapur, sumur, dan kasur, dan membuktikan kaum wanita mampu turut serta dalam mencerdaskan dan berkhidmat pada umat. Maka IPM harusnya mampu memberantas guyonan-guyonan seksist sebelum menjadi tindakan diskriminatif.

Hal lain yang dapat menimbulkan tindakan diskriminatif adalah guyonan yang bersifat rasis. Misalnya di Jawa Tengah sendiri dengan 35 kabupaten/kota terdapat banyak logat dan bahasa berbeda walau masih tergabung dalam rumpun bahasa jawa. Seperti bahasa jawa di area solo sekitar nya akan berbeda dengan bahasa jawa yang ada di pesisir utara. Berbeda lagi dengan bahasa jawa yang ada di eks karesidenan Banyumas. Perbedaan ini terkadang menimbulkan guyonan guyonan yang dianggap lumrah namun sebenarnya menyinggung kelompok tertentu. Semisal ujaran bila ada wanita berkata dengan bahasa jawa yang berbeda dengan kita, maka cantiknya hilang atau guyonan lainya yang menyangkut perbedaan suku, bahasa, dan ras. Memang tidak berdampak secara langsung. Namun sekali lagi bila diteruskan dan menahun bisa mengakibatkan tindakan diskriminatif terhadap golongan tertentu.

Diskriminasi yang seperti apa?

Dalam KBBI diskriminasi diartikan sebagai perbedaan perlakuan antar sesama warga berdasarkan ( ras, suku, budaya, kelas sosial, kelamin dll). Dalam konteks tulisan ini tindakan diskriminasi bisa berwujud pewajarnya membully seseorang yang berbeda. Semisal dalam kasus difabel, ketika kita atau masyarakat merasa wajar membully orang cacat itu sudah termasuk diskriminasi. Begitupun ketika kita merasa wajar melontarkan guyonan seksis pada orang yangyg berbeda jenis kelakelamin dengan kita. Pewajaran semacam ini sejatinya bisa berdampak lebih serius ketika dibiarkan menahun dan berlarut-larut. Maka lebih awal mencegah jauh lebih baik daripada harus mengurai jaring-jaring bully yang sudah semrawut.

*) Toleransi menjadi kunci

Pada akhirnya perbedaan adalah rahmat dari Allah kepada kita. Bahkan secara gamblang dinyatakan penciptaan manusia dengan perbedaan suku dan budaya ditujukan agar manusia saling mengenal satu sama lain. Sikap toleransi terhadap perbedaan yang ada menjadi kunci agar hubungan manusia sebagai masyarakat berlangsung harmonis. Memang ada kalanya perbedaan menimbulkan sedikit ketidak enakan pada diri kita. Semisal standar moral yang berbeda, kebiasaan, ucapan. Namun perlu diketahui bahwa kita tidak bisa menyamakan semua orang dengan kita. Maka daripada berfikir diri kita lah yang paling baik dan menjelekan orang yang berbeda, mencoba menerima dan bertoleransi jauh lebih menentramkan hati kita. Selain itu Islam mengajarkan pada kita untuk melindungi dan menjaga kaum yang lemah. Lemah karena kondisi sosial atau karena berbeda dengan kebanyakan masyarakat yang ada di lingkungan tertentu.

*Penulis : Atha Zha Zha Zaky (Sekretaris Bidang Advokasi PW IPM Jawa Tengah 2019 – 2021)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *