Islam datang selain membawa kedamaian, juga menjadi pembela bagi kaum yang dilemahkan. Memerdekakan budak, mengangkat derajat wanita, sistematika zakat dan qurban, menjadi bukti nyata Islam adalah ajaran damai dan humanis. Nikai semacam ini seharusnya mampu menjadi nilai universal kemanusiaan bagi seluruh dunia. Ada dua hal yang dapat kita petik dari nilai kemanusiaan universal yang dibawa agama Islam. Yang pertama, sudah sepatutnya negara sebagai perkumpulan manusia yang sepakat bersatu mengambil nilai ini, agar tidak terjadi kedzaliman/pelanggaran HAM yang dilakukan baik kedalam ataupun keluar. Yang kedua, kita harus memahami tidak ada alasan takut dengan ajaran Islam, terlebih menjadikan alasan untuk melakukan pelanggaran HAM, baik yang dilakukan oleh non muslim, atau muslim itu sendiri.

Dengan begitu, Pelanggaran HAM atas alasan apapun tidak dibenarkan. Baik atas nama penegakan ideologi, politik, ekonomi, eksploitasi sumber daya, pembangunan dan alasan lainya. Dan seharusnya tiada lagi kasus pelanggaran HAM atas etnis Uyghur di Xinjiang, Yaman, Suriah, Palestina, Gaza, Rohingnya, bahkan tragedi Ambon, Papua, penggusuran secara paksa di beberapa daerah, dan perampasan hak-hak dasar manusia oleh siapapun.

Kemudian, IPM dalam kerangka gerakan ilmu mempunyai salah satu misi besar yaitu turut serta membentuk masyarakat beradab. Dengan dua hal yaitu melakukan penguatan masyarakat pelajar dengan membangun potensi ideologis, intelektual, dan politik untuk membawa pelajar sebagai pembaharu dalam struktur masyarakat dan kekuatan kritik terhadap kekuasaan. Kedua dengan menyadari bahwa sangat strategis dan penting melakukan penyadaran sosial politik kepada salah satu elemen masyarakat bernama pelajar, karena kondisi mereka yang masih kosong akan kepentingan-kepentingan sehingga efektif untuk dapat menggerakan dan menyuarakan kepentingan moral.

Dari perenungan diatas, kami mengajak Ikatan Pelajar Muhammadiyah se Jawa Tengah turut serta menggerakan dan menyuarakan kepentingan moral dalam kerangka gerakan ilmu dan tak melupakan posisi sebagai ortom Muhammadiyah yang bersifat moderat dan tengahan. Kami sadar betul amar ma’ruf harus dilkakukan dengan cara yang ma’ruf pula. Maka mari mengambil posisi di tengah, memandang kasus Uyghur sebagai pelanggaran HAM dan kita memiliki tanggung jawab moral atasnya, tanpa melupakan tragedi di Yaman, Gaza, Suriah, Palestina dan pelanggaran HAM lain di dalam negeri. IPM pula harus menjadi pencerahan agar pelajar tidak terjebak dalam sikap ekstrim yang menyuarakan kemanusiaan tanpa mengkroscek sumber-umber yang digunakan, bahkan menggunakan data HOAX tanpa sadar dan melupakan isu kemanusiaan lain dan cenderung mengikuti arus. Atau mengambil posisi acuh karena memandang isu ini hanya propaganda politik perang dagang Amerika dan China. Mari membaca, berdiskusi, mengkaji isu-isu kemanusiaan kemudian menyuarakanya dalam rangka kepedulian kita sebagai pelajar.

Terakhir, kami mendorong elite Negri untuk segera menuntaskan tuntutan yang menjadi pernyataan sikap Muhammadiyah atas isu pelanggaran HAM yang ada. Kami berharap pula ada upaya dialog baik dari PP IPM atau PP Muhammadiyah sebagai penyambung lidah pimpinan di bawahnya ke pemerintah dalam rangka mendorong pemerintah Republik Indonesia berdiplomasi agar pihak RRC membuka informasi terkait apa yang terjadi pada etnis Uyghur di Xinjiang secara transparan. Juga menunaikan amanah konstitusi baik kedalam dalam rangka memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Serta keluar dalam rangka turut serta menjaga ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

PELAJAR PEDULI HAM, IPM JAYA, Nuun Walqalami Wamaa Yasthuruun


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *