Oleh: Sri Rahayu (Anggota Bidang Advokasi PW IPM Jawa Tengah 2019-2021)

  • Judul : Literasi Sampai Mati!
  • Penulis: Nurani Soyomukti
  • Penerbit: Progresif
  • Jumlah Halaman: 220 halaman
  • Cetakan: Pertama
  • Tahun Terbit: 2018

Buku ini mengangkat catatan hidup dengan banyak teks dan konteks, sekaligus dialog dengan dirinya sendiri dan memilih pena dengan senjata. Ditulis oleh orang yang mencintai dan mendarahi pengarus-utamaan Literasi.

Dalam buku ini menceritakan Nurani Soyomukti, tentang catatan hidup.  Perjalanan intelektual “aktivis” Literasi, mulai dari sekolah dan kuliah, menjadi aktivis di beberapa kota, hingga pulang kampung dan membangun gerakan Literasi di Kampung halaman. Beliau menguraikan berbagai evolusi pemikiran bersamaan perubahan-perubahan peran. Sebagai sebuah buku yang dimaksudkan untuk memotret aspek literasi, buku ini cukup berhasil dalam menyuguhkan bagaimana pentingnya tradisi membaca dan menulis sebagai budaya yang harus dijaga. Keterlibatan Nurani Soyomukti dalam aksi-aksi literasi sejak sekolah hingga beliau pulang kampung tetap menjadi kisah hingga menjadi banyak judul buku dan memetik peran sosial yang cukup partisipatif dari kedalamannya menerjuni dunia Literasi.

Dalam situasi inilah, budaya menulis harus disosialisasikan pada masyarakat, terutama generasi muda. Generasi muda tidak boleh hanya menjalani budaya yang dikendalikan oleh pemilik modal yang hanya meniru, mengkonsumsi, dan menghabiskan satu hal yang berguna bagi masyarakatnya.

Dalam buku ini bisa melihat bagaimana dinamika literasi dalam diri Nurani Soyomukti berkembang. Pertaubatan dari aktivis radikal yang mmegang pikiran ideologis yang kaku, higga kemudian ikut masuk sistem demokrasi yang menurutnya lebih rasional untuk diperjuangkan. Sebagai sebuah buku yang dimaksudkan untuk memotret aspek literasi, buku ini cukup berhasil dalam menyuguhkan bagaimana pentingnya tradisi membaca dan menulis sebagai budaya yang harus dijaga. Keterlibatan beliau dalam aksi-aksi literasi sejak sekolah hingga beliau pulang kampung tetap menjadi kisah utama buku ini.

Bahwa menulis adalah kegiatan yang mampu menghasilkan kekuatan produktif sejarah masyrakat. Menulis adalah bagian dari kebudayaan yang produktif. Budaya dalam hal ini adalah sekian potensi dan hasil dari manusia dalam menggunakan rasa, karsa, dan pikirannya. Akan tetapi umumnya oleh banyak kalangan dipahami bahwa budaya hanya berkaitan dengan aspek seni dan gaya hidup. Pada hal budaya mencakup keseluruhan manusia dalam membudi dan mendayakan diri dalam kehidupan, yang secara mendasar adalah cara-cara manusia dalam menghadapi alam dan upayanya memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup dan mengembangkan hidup. Menulis adalah kegiatan yang memproduksi dan mencari makna.

Buku ini mempunyai kemampuan untuk menyadarkan para generasi muda “ Membaca dan menulis adalah jalan progresif yang harus dilalui oleh siapapun yang ingin menjadi subjek dalam kehidupan. Jalan membaca buku dan menulis adalah jalan menjadi manusia yang ingin mendapatkan pencerahan dan kontrol terhadap dunianya, bukan objek penindasan sistem budaya yang hanya menyuruh orang untuk meniru semata”.

Categories: Resensi Buku

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *