Oleh: Bidang PIP IPM Jateng

Rausyanfikr adalah kata Persia yang artinya “pemikir yang tercerahkan”. Dalam terjemahan Inggris terkadang disebut intellectual atau enlightened thinkers. Rausyanfikr berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang rausyanfikr menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaimana adanya, rausyanfikr memberikan penilaian sebagaimana seharusnya.

Sejak belahan kedua abad ke-19, di Iran dikenal istilah rausyanfikr yang secara harfiyah diartikan sebagai “pemikir yang tercerahkan”. Tapi secara historis istilah itu menunjuk pada pengertian umum tentang kaum intelektual sekuler yang yang tumbuh di Iran pada waktu istilah itu mulai dipakai, yaitu kaum terpelajar didikan Barat yang sekaligus mengagumi dan dipengaruhi oleh para filosof Eropa abad ke-18 yang dikenal sebagai abad pencerahan.

Pengertian Rausyanfikr pada mulanya terbatas. Kaum intelektual yang berpaham modernis dan berkecenderungan liberal, yang bekerja dan berfikir secara professional, tetapi terpanggil untuk melakukan perubahan-­perubahan politik, sosial maupun kultural. Tetapi, belakangan definisi Rausyanfikr mulai berubah dan menjadi umum oleh Ali Syariati, dia memberi definis Rausyanfikr sebagai seorang intelektual muslim yang memiliki kewajiban untuk kemudian menjdi mercusuar bagi problematika kemasyarakatan disekitarnya.

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Tengah dalam kiprahnya juga memiliki sebuah konsepsi gerakan yang serupa dengan Rausyanfikr. IPM Jawa Tengah pasca Musyawarah Wilayah 23 salah satu keputusannya adalah menjadi Organisasi Kepemudaan yang salah satu konsentrasinya adalah di bidang keilmuan pelajar, baik pelajar Muhammadiyah ataupun umum.

Dari sebuah penisbatan ini, IPM Jawa Tengah mulai merumuskan geraknya di bidang keilmuan yang harapanya kedepan organisasi yang dibawah naungan persyarikatan Muhammadiyah ini dapat menjadi mercusuar baru di tengah masyarakat dengan segala problematikanya sehingga bisa menjadi salah satu pemegang peran pembangun peradaban bangsa. Hal ini juga senada dengan semangat Nabi Muhammad SAW yang disampaikan Muhammad Iqbal seorang filosof muslim abad 19, Iqbal mengatakan bahwa ketika Nabi Muhammad menjalani proses Isra’ Mi’raj dan melihat sebuah alam surgawi tidak lantas menjadi Rasulullah hendak diam dan menjalani kehidupan dengan tenang di alam tersebut. Nabi Muhammad justru mengambil keputusan untuk turun ke dunia lagi untuk menyampaikan risalah Islam untuk umatnya. Hal ini berarti bahwa Rasulullah mencoba mengubah tatanan dunia yang saat itu kacau dengan konsepsi Islam yang Rahmatan Lil Alamin.

Kedua konsepsi inilah yang agaknya melatarbelakangi IPM Jawa Tengah memiliki konsentrasi di bidang ilmu pengetahuan untuk memajukan peradaban. IPM dalam geraknya memiki beberapa bidang yang bergerak sesuai dengan arah geraknya masing-masing. Ketika berbicara tentang wacana ilmu pengetahuan akan tiba pada muara tugas dari bidang Pengkajian Ilmu Pengtahuan (PIP) Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Sebagai manifestasi dari gerakan ilmu yang telah dibahas diatas, maka kemudian bidang PIP  IPM Jawa Tengah mencoba untuk ikut serta membangun bangsa melalui jejaring kolaborasi antar semua elemen. Langkah-langkah strategis dilakukan dan diupayakan bersama. Hal ini tercermin ketika Bidang PIP IPM Jateng menyelenggarakan Rapat Koordinasi Bidang PIP IPM Se-Jawa Tengah di Kabupaten Blora, pda 27-29 Desember 2019. Dalam forum ini dibahas tentang bagaimana strategi yang tepat guna merumuskan arah gerakan keilmuan yang ingin dicapai sebagai bentuk manifestasi dari rausyan fikr dan semangat dari junjungan kita Nabi Muhammad SAW.

Hasil dari rapat koordinasi ini menemukan beberapa intisari gerakan yakni, pertama pemasifan perpustakaan ikatan yang akan dibuka secara umum dan bida diakses oleh semua lapisan masyarakat. Kedua, selanjutnya akan diadakan sebuah pelatihan literasi untuk pelajar Muhammadiyah se-Jawa Tengah guna mengupgrade wacana keilmuan untuk pelajar. Ketiga, kampanye budaya literasi dimanapun berada baik secara kegiatan formal maupun non formal.

Hal-ha tersebut diharapkan dapat menjadi upaya dalam rangka mewujudkan masyarakat Islam yang akan mju seperti zaman dinasti Abbasiyah, dimana saat itu muslim menguasai ilmu pengetahuan dan menjadi penguasa di muka bumi ini. Semoga di masa depan Islam dapat berjaya lagi dengan kemunculan intelektual-intelektual Muslim yang akan menjadi senjata islam dalam melawan segala hegemoni barat.

Berkah Rahmat ilahi melimpahi perjuangan kita semua.

Categories: Opini Pelajar

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *