Buku dengan judul Asal-Usul dan Sejarah Orang jawa karya Sri Wintala Achmad. Penulis merupakan seorang Sejarawan yang sudah menulis 30 Buku bertajuk sejarah, peradaban, dan Filsafat Jawa, juga Seorang ini adalah sebuah buku yang berisikan ulasan lengkap semua yang melekat pada diri seorang jawa dari baik dari asal muasal secara biologis sampai dengan asal muasal semua perilaku dan lingkungan di dalamnya. Buku Asal-Usul dan Sejarah Orang jawa ini diterbitkan oleh Aksara Publisher tahun 2017 dengan jumlah 264 Halaman. Buku Asal-Usul dan Sejarah Orang Jawa ini menurut penulis resensi sekilas terlihat sangat biasa, apalagi ditengah liberasi budaya era millenial ini. Namun yang perlu digaris bawahi adalah selepas apapun suatu peradaban, budaya, dan populasi masyarakat maka dia akan selalu terikat dengan sejarah dan masa lalunya.

Buku Asal-usul dan Sejarah Orang Jawa ini menjelaskan dengan detail segala hal yang berkaitan dengan Orang Jawa itu sendiri, terlepas dari identitas teritorik dan wilayah. Banyak versi literatur yang menjelaskan tentang asal muasal Jawa dan segala hal yang melekat dalam kata jawa tersebut mulai dari era Majapahit, era kolonial, sampai dengan pescakemerdekaan. Literatur khas jawa yang menjelaskan setiap jengkal peradabannya ini sering dikenal dengan, Serat (karya-karya sastra yang berisi tentang ajaran-ajaran dari leluhur untuk sebuah kebaikan), Babad (cerita rekaan yang berdasarkan peristiwa sejarah), dan Suluk (citra yang dinyanyikan oleh ki dalang dalam pakeliran wayang).

Siapakah Orang Jawa?, di tengah majemuknya budaya zaman sekarang, ditengah riuhnya berbagai sudut pandang tentang pentingkah memahami dan mempelajari Siapa sebenarnya Orang jawa ini, dibalik itu semua banyak terselip pernyataan-pernyataan yang bahkan memilih untuk tidak dan acuh terhadap segala hal yang berkaitan dengan Jawa. Ingat, yang akan di bicarakan disini adalah Jawa, bukan keJawen. Banyak sudut pandang yang Multidimensional saat kita memperbincangkan siapa sebenarnya Orang jawa ini, seperti apa bentuknya, apakah Ras?, ataukah semacam dinasti?, apakah Jawa Berasal dari nama sebuah pulau? Ataukah sebaliknya?. Kemudian setelah terjawab, apakah orang yang mendiami pulau tersebut bisa disebut orang jawa, atau apakah orang yang memang mempunyai kekhasan tertentu itulah yang kita sebut sebagai orang jawa.

Sebelum sebuah negara maritim bernama Indonesia ini ada, terdapat gugusan pulau pada pra-Sejarah (7000 tahun SM) dan ditinggali oleh sekumpulan manusia (Homo Sapiens). Asal muasal orang jawa ternyata mempunyai banyak versi, semuanya mempunyai rangkaian waktu yang saat di satu gariskan, ternyata membentuk sebuah alur evolusi. Pribumi nusantara yang kini kita sebut sebagai jawa sejatinya adalah 0987654 percampuran antara suku Lingga (3000 SM) kemudian 270 SM terjadi invasi dagang dan penyebaran ajaran/aliran kepercayaan dari banyak belahan dunia seperti Orang Zhou (dari China), kemudian di susul orang-orang dari Yaman, Arab, dan Campa. Ada versi lain yang menjelaskan siapa dan darimana asal usul orang jawa ini, ini sering di sebut dengan versi Babad tanah Jawa atau babad tanah jawi, disini di sebutkan bahwa orang jawa merupakan keturunan dari Sang Hayng Brama (trah Nabi Adam AS; Baca buku Babad tanah jawi W. L Olthof).

Berbicara asal muasal, tentunya dalam hal ini Orang Jawa mempunyai beberapa fase yang tdak boleh dilewatkan. Periode Pra-Sejarah dengan ditemukan fosil Pithecanthropus Erectus dan homo Sapiens (diperkirakan hidup 70000 tahun SM) di lembah Bengawan Solo atau di kaki gunung Lawu. Periode Hindu dan Buddha merupakan fase yang sampai sekarang masih sangat kental melekat pada jati diri seorang jawa apabila dilihat secara normatif. Orang jawa yang sangat khas dengan filsafat dan pemikiran simbolisnya kemudian menjadi sangat senada dengan gaya peribadatan dan kepercayaan Hindu Buddha hingga terhitung perkembangan yang sebelumnya cenderung mengalami pergolakan bisa mencapai puncak kemakmuran pada masa Mataram. Sebenarnya secara basis keagamaan Hindu berbeda dengan Buddha, namun karena mempunyai gaya peribadatan simbolis yang hampir sama, Orang jawa menemukan kesesuaian dengan model animisme (memvisualkan tuhan dengan perwujudan-perwujudan tertentu) dan dinamisme (menganggap tuhan ada pada suatu Objek).

Periode Islam sebenarnya sudah mulai berjalan di masa-masa keemasan kerajaan Majapahit, dengan datangnya Wali sana / Wali Sanga. Sebenarnya kalau di telisih lebih dalam ada banyak tokoh-tokoh yang mempunyai andil besar untuk perkembangan Islam di jawa. Melalui kasultanan Demak, kemudian Mataram, Kartasura, sampai denga Yogyakarta, raja Pakunegaran, sampai dengan kadipaten-kadipaten Pakualaman banyak yang kemudian tertarik dengan islam, lagi-lagi banyak sekali improvisasi yang di lakukan da’i-da’i di jawa untuk mempengaruhi kepercayaan lama yang simbolis orientrik.

Periode Kolonial, kerja rodi tahun 1808 mengawali periode dimana Doktrinasi atas keykinan yang di bawa para penjajah kolonial (Kristen dan katholik), pembangunan untuk pengeruk rempah-rempah nusantara galak dilakukan dengan sistem rodi (paksa) ini. Dilanjutkan dengan Culturstelsel yang mengharuskan Orang jawa pada masa itu (1816) harus menelan kepahitan karena pembodohan yang dilakukan kolonial dengan Sistem Tanam paksa. Kemudian pasca kemerdekaan terjadi banyak peristiwa yang kian menenggelamkan Idealisme jawa yang sudah sekian ratus tahun terbangun, Agresi belanda, G 30s-PKI, hingga pemerataan penduduk Indonesia (transmigrasi) yang memulai populasi Pribumi jawa keluar Pulau.

Orang jawa yang sekarang kita kenal yaitu orang yang sejak lahir sudah ada di tanah jawa, keluarganya asli dari jawa, buyutnya pun sejak dulu tinggal di Jawa pun sangat asing dengan identitas Jawa nya. Pengaruh budaya dari luar seharusnya tidak kemudian menggadaikan budaya sendiri terlebih kalau sudah berkaitan dengan keyakinan. Sampainya Masyarakat Jawa pada era Modern ini juga tidak lepas dari pengaruh agama dan keyakinan yang secara empirik melakukan pendekatan ajaran kemudian terbentuklah sebuah budaya. Orang jawa mempunyai ciri khas dalam berbagai hal, mulai dari sifat (Unggah-Ungguh), kebudayaan, dan berbagai dimensi Filsafat yang di telurkan orang-orang jawa sebagai buah dari pemikiran atas keluhuran sikap dan kepribadian.

Sikap dan Sifat Orang jawa jelas bisa menjadi pembeda dengan etnis lain, pada dasarnya kepribadian ini berdasar pada keyakinan orang jawa lama atas ajaran-ajaran yang mengajarkan tentang kedamaian, kerukunan, manunggal, dan rahayu. Dalam hal ini seolah ingin disampaikan, bahwa siapa saja bisa menjadi orang jawa, siapapun berhak untuk mengklaim dirinya jawa, sikap sikap terpuji yang dijadikan pegangan menjadi sangat menarik untuk menyebarluasan ajaran. Sabar, ora nggaya (tidak sombong), pemalu dan sungkan, eling lan waspada (ingat dan waspada), treseh (ramah), andhap ashor (sopan santun kepada yang lebih tua) gotong-royong, pandai membaur dan bersosialisasi, suka mengalah apabila terjadi perselisihan dan mengutamakan kepentingan bersama.

Secara pribadi dan sikap, setiap orang bisa disebut jawa apabila bisa ber-Unggah Ungguh seperti layaknya ciri khas orang jawa. Budaya akan cenderung memperlihatkan dirinya dengan kearifan yang berbagai macam ragamnya. Ini terlihat hampir setiap RAS, etnis, Suku yang hidup di seluruh belahan dunia ini, mulai dari arsitektur bangunan, sastra, bahasa, cara berpakaian, kuliner. Di awal telah kita fahami bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang jawa dalam kehidupan sehari-harinya, apa yang dia ucapkan, apa yang dia buat, apa yang dia lakukan selalu tak pernah lepas dari prinsip filosofis yang dalam. Contohkan makanan khas jawa Gudeg, menurut orang jawa makanan ini akan sangat nikmat apabila dihidangkan setelah berhari-hari dimasak, disini orang jawa ingin menanamkan sikap unggah ungguhnya dalam simbol makanan, kesederhanaan dalam hidup, dan kesahajaan dalam bersikap.

Pada dasarnya banyak hal yang bisa diambil dari orang jawa, menjadi suku dengan klaim yang tidak memaksa dengan etika suka bersosialisasi, suka bermusyawarah, membuatnya bisa diterima disetiap lapisan nusantara. Setiap jengkal hidupnya selalu penuh nilai dan makna baik. Maka tidaklah boleh mengambil secara mentah begitu saja ritual-ritual dan simbol-simbol dama budaya jawa. Ketika kita mampu menelaah dan mempelajari nilai yang berada di setiap filsafat dari kehiduoan orang jawa sejatinya di satu sisi kita akan memahami apa itu agama, apa itu islam, dan apa itu kearifan lokal.

*)Penulis : Agam Setyo Bakti (Kabid Asbo PW IPM Jawa Tengah periode 2019 – 2021)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *