Pernah mendengar quarter life crisis?
Sebelum membahas quarter life crisis mari kita membahas fase kehidupan. Konon, fase terberat dalam hidup adalah usia dua puluhan! Jika seseorang berhasil melewati fase ini dengan baik, hidup akan baik-baik saja hingga akhir. Jika gagal, segalanya menjadi lebih berat lagi di fase berikutnya.

Di usia 20-an dan awal 30-an, setiap orang mengalami krisis hebat. Tentang penemuan jati diri. Tentang menjadi cocok dengan lingkungan. Tentang menemukan kompas untuk melangkah ke masa depan. Sementara kita sibuk di antara dilema bersenang-senang atau bekerja keras? Pacaran dulu atau menikah saja? Bekerja atau berwirausaha? Memanjakan diri atau berinvestasi? Lebih penting bahagiain diri sendiri dulu atau orangtua dan keluarga? Sialnya, hidup orang lain selalu tampak lebih keren, lebih mengilap, lebih mapan! Kita kapan?

Orang menyebut fase ini sebagai krisis perempat usia. Quarter life crisis! Buku ini tidak memberi kamu cara menjalaninya. Buku ini bukan buku panduan dalam menghadapi quarter life crisis, kang fahd mencoba tidak ingin menggurui, karena kang fahd paham setiap orang mempunyai permasalahan unik dan disetiap masalah itu tak bisa diselesaikan dengan satu formulasi saja, kadang kita hanya perlu mencontoh suatau hal untuk menyelesaikan setiap permasalahan kita. Sebab kamulah tuan bagi dirimu sendiri. Melalui buku ini, Fahd Pahdepie bercerita dan mengajak kita melihat betapa serunya melewati fase hidup yang menegangkan ini.

Kang Fahd mengajak kita membuktikan diri, bahwa kita: MUDA. BERDAYA. KARYA RAYA!

Buku ini terbagi menjadi 10 bab utama : taruh hatimu di puncak gunung, mulailah dari akhir, teruslah bergerak, hargai proses, perhatikan sekeliling, jangan ragu berbuat baik, bekerjalah untuk mereka yang kaucinta, merangkul yang dekat menjangkau yang jauh, belajarlah pada siapa saja, dan bab utama terakhir yakni jangan kaya sendirian.

Ada beberapa tema yang diangkat di buku ini. Tentang mimpi yang harus diperjuangkan, tentang keluarga yang harus diperhatikan, tentang bisnis yang berliku, tentang pengalaman yang menyimpan hikmah, dan tentang berbagi kepada sesama. Dan setiap bab akan selalu disisipi quotes yang bagus!

JADILAH YANG TERBAIK

Barangkali kita tak selalu bisa jadi pemenang dalam setiap kompetisi,mungkin bukan yang terbaik dibandingkan orang lain. Namun, kita selalu bisa jadi juara untuk diri kita sendiri, jika melakukan yang terbaik sejauh yang kita mampu. Katakan kepada diri sendiri bahwa kita bisa dan harus menjadi yang terbaik. “Whataver you are, be a good one.” kata William Thackeray (1811-1863).

Thackeray dikenal karena novel satirnya berjudul Vanity Fair (1847). Meskipun kalimat “Whatever you are, be a good one” seringkali disalahpahami sebagai kalimat milik Abraham Lincoln, sesungguhnya ia berasal dari autobiografi yang ditulis Launce Hutton– editor majalah Vanity Fair (sekarang Vanity Fair memang menjadi nama sebuah majalah terkenal, kan?).

Ditulis Hutton, semasa kecil ia bertemu dengan Thackeray dan meminta sebuah nasihat tentang hal yang ia lakukan jika kelak dewasa. Saat itulah Thackeray meletakkan tangannya di kepala Hutton sambil berkata “Whatever you are, be a good one”, jadi apa pun kamu nanti, cobalah untuk menjadi yang terbaik. Belakangan ini, kata try to (cobalah) menghilang dengan sendirinya dari kalimat yang dikutip dimana-mana itu.

Seringkali jalan hidupmu terlihat tak terlalu jelas dan kau menemukan dirimu sendiri berusaha menemukan arah. Perjalananmu untuk menemukan jati diri bukan sekadar menyelesaikan satu etape kehidupan ke etape lainnya, bukan pula tentang pencapaian besar atau prestasi-prestasi luar biasa. Tetapi tentang benar-benar memperhatikan apa yang sedang kamu kerjakan sekarang, dengan upaya sungguh-sungguh untuk memahami apa yang unik dari dirimu, yang menunjukkan peran dirimu sebenarnya.

Kita semua terlahir ke dunia dengan satu alasan yang tak dimiliki orang lain, kan? Temukanlah alasan itu. Barangkali apa yang kita lakukan tidaklah penting, sebab yang paling penting adalah bagaimana kita melakukannya. Untuk mencapai kebahagiaan hidup, kita harus fokus pada ‘bagaimana’ menjalani hidup ini merayakan segala hal, baik peristiwa besar atau kecil, dengan sepenuh hati, penuh semangat, di mana pun dan kapan pun.

Jadilah yang terbaik, sejauh yang kamu bisa.
(Halaman 57-58)
 
“Percaya pada masa depan adalah hal terbaik untuk memaafkan masa lalu.”
– Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya

“Hidup ini bukan tentang berapa lama kita menjalaninya, tetapi berapa dalam kita memaknainya.”
– Fahd Pahdepie, Muda Berdaya Karya Raya

Fahd  (lahir di Cianjur, 22 Agustus 1986; umur 28 tahun) adalah alumni Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah daerah Garut. Beliau mengenyam pendidikan selama 6 tahun yakni tingkat MTs. dan MA. Selama nyantri di Darul Arqam, Fahd sempat menjadi Kabid. KPSDM PR. Ikatan Pelajar Muhammadiyah Darul Arqam. Setelah tamat dari Darul Arqam, dia menempuh pendidikan S1 jurusan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Selama kuliah beliau pun aktif di PK. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FISIP UMY. Setelah lulus S1 beliau segera menikahi gadis pujaan hatinya Rizqa Abidin yang sudah dikenalnya semenjak masih mesantren dan dikaruniai 2 orang anak yakni Kalky dan Kemi. Sekarang Fahd sedang menempuh S2 di Monash University Australia jurusan hubungan internasional.

Penulis yang dikenal dengan karya-karya kreatifnya serta pemikiran-pemikiran segarnya tentang hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari. Beberapa bukunya yang telah diterbitkan antara lain A Cat in My Eyes (2008), Curhat Setan (2009), Yang Galau Yang Meracau: Curhat (Tuan) Setan (2011), dua buah novel Rahim: Sebuah Dongeng Kehidupan dan Menatap Punggung Muhammad (2010), serta sebuah karya kolaborasi bersama Bondan Prakoso dan Fade2Black dalam bentuk fiksi-musikal  Hidup Berawal Dari Mimpi (2011).

Fahd dikenal sebagai penulis kreatif yang memperkenalkan metode creative writhink (menjadi nominator dalam Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa Bidang Kreatif Tahun 2009 yang diselenggarakan Dirjen Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional RI). Di samping itu, ia juga meraih beberapa penghargaan bergengsi dalam bidang penulisan dan pemikiran, antara lain: UNICEF Young Writer Award, DAR!Mizan Unlimited Creativity Award 2006 Sebagai Penulis Terbaik, Juara I MTQ Tingkat Nasional Bidang Karya Tulis Al-Quran, penghargaan Ahmad Wahib Award 2010 dari Yayasan Wakaf Paramadina dan Hivos Foundation, dan lainnya.

*Penulis : Sulistyo Suharto (Bendahara 2 PW IPM Jawa Tengah periode 2019-2021)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *