(PD IPM Kota Surakarta)

Sesekali saya iseng menanyakan hal-hal yang tidak begitu penting ke teman saya, tujuannya hanya untuk mengetahui pendapat saja. Contohnya, “kenapa ya kok ketua disini selalu diisi dengan laki-laki dari periode ke periode?“ Jawaban teman saya sederhana “Selagi masih ada laki-laki, perempuan gak usah memimpin“ Jawaban tersebut sering sekali saya dengar dari teman saya, entah dia yang gabung di organisasi atau tidak. Konteksnya melanggengkan bahwa saya dan mereka (perempuan) seakan tidak mampu memimpin jika masih ada laki-laki disekitar mereka.

Sejak Kapan Konsep Pemikiran Tersebut Lahir?

Sejak zaman dahulu, ternyata pemikiran tersebut sudah dibentuk hingga kemudian masyarakat sekarang melanggengkan. Ahli fiqh, pemikir yang didominasi laki-laki memberikan alasan-alasan kenapa kemudian laki-laki lebih bisa menduduki posisi pengambil keputusan, cum hakim, presiden, kepala pemerintahan, gubernur dan lain sebagainya. Sebut saja Ar Razi, beliau mengatakan bahwa kelebihan itu terbagi menjadi dua hal yaitu ilmu pengetahuan dan akal. Keduanya tersebut lebih unggul dimiliki oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan, kemudian untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan berat, laki-laki lebih mampu menurutnya. Kemudian Az-Zamakhsyari yang merupakan pemikir Mu’tazilah terkemuka mengatakan bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan itu disebabkan karena akal, tekad yang kuat, kekuatan fisik, ketegasan, secara umum memiliki kemampuan menulis dan yang terakhir adalah keberanian. Tidak jauh berbeda dengan pendapat Ath-Thabathaba’I yang menyatakan bahwa kelebihan laki-laki atas perempuan adalah karena akal yang karena itu melahirkan keberanian, kekuatan, kemampuan mengatasi berbagai persoalan sedangkan perempuan lebih sensitive dan emosional. Para penafsir lain, seperti Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Muhammad Thahir bin Asyur dan sebagainya juga memiliki pendapat yang tidak jauh berbeda, dan mengungkapkan bahwa kelebihan yang dimiliki laki-laki tersebut sifatnya adalah kodrati, alamiah, sesuatu yang fitri atas pemberian Tuhan. Atas dasar inilah, laki-laki lebih bisa berada di posisi kekuasaan publik dan pengambil keputusan dibandingkan dengan perempuan.

Dewasa ini, kelebihan-kelebihan tersebut terbantahkan dengan kadaan riil yang terjadi sekarang. Sejarah modern membuktikan bahwa banyak perempuan yang mampu menduduki posisi kekuasaan publik dan pengambil keputusan. Paradigma yang menyatakan mengenai kelebihan tersebut bersifat alamiah dan kodrati juga terbantahkan karena kelebihan tersebut merupakan konstruksi sosial yang sengaja diciptakan dan terus dikembangkan. Kehebatan intelektual dan profesi merupakan syarat yang penting untuk dapat memimpin baik di wilayah domestik, publik ataupun Negara. Maka dalam hal ini kesempatan perempuan terbuka lebar untuk dapat menduduki posisi tersebut karena kehebatan intelektual dan profesi tidak hanya dimiliki oleh laki-laki saja, perempuan juga memiliki.

Bagaimana dengan Hadits yang berbunyi “Tidak akan pernah beruntung bangsa yang dipimpin Perempuan?

Dalam hadits tersebut, Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits tersebut melengkapi kisah Kisra yang telah menyobek surat Nabi Muhammad SAW. Suatu saat, ia dibunuh oleh anak laki-lakinya, kemudian anak tersebut membunuh saudara-suadaranya. Ketika dia mati diracun, kekuasaan kerajaan akhirnya berada di tangan anak perempuannya yaitu Bauran binti Syiruyah Ibnu Kisra. Tidak lama kemudian, kekuasaannya hancur berantakan sebagaimana doa Nabi.
Karena latar belakang saya bukan dari pendidikan Tafsir, maka kurang sopan untuk mengutarakan pendapat, kemudian saya mengambil pendapat dari Dr. Abdul Qadir Abu Faris yang mengatakan bahwa hadits tersebut diungkapkan dalam kerangka pemberitahuan, informasi yang disampaikan oleh Nabi semata, bukan dalam kerangka legitimasi hukum. Tegasnya, hadits tersebut tidak memiliki relevansi hukum. Hadits tersebut tidak hanya berlaku bagi bangsa Persia tetapi semua bangsa yang dipimpin perempuan. Jadi yang harus dipertimbangkan adalah bunyi hadits yang menunjukkan arti umum. Jika demikian, maka hadits tersebut harus dipahami dari sisi esensi dan tidak dapat digeneralisasikan untuk semua kasus, melainkan bersifat spesifik untuk kasus bangsa Persia pada saat itu, yang bisa jadi kepemimpinannya bersifat sentralistik, tiranik, otokratik.

Sejumlah perempuan telah terbukti mampu untuk memimpin bangsa dengan gemilang. Pada masa sebelum islam, kita mengenai Ratu Bilqis, penguasa negeri Saba, seperti yang diceritakan Al-Qur’an, kepemimpinannya dikenal sukses dan gemilang, negaranya aman dan sentosa. Lalu kemudian Indira Gandi, Margaret Teacher, Srimavo Bandaranaeke, Benazir Butho dan Syekh Hasina Zia merupakan beberpa contoh pemimpin bangsa pada masa modern yang dapat dikatakn sukses dalam masa kepemimpinannya. Begitu juga terdapat Negara yang gagal ketika dipimpin oleh laki-laki. Kesuksessan atau kegagalan dalam memimpin tidak ada kaitannya dengan jenis kelamin baik itu laki-laki ataupun perempuan. Akan tetapi lebih ditentukan oleh system yang diterapkan dan kemampuannya dalam memimpin.

Bagaimana dengan IPMawati?

IPMawati perlu kiranya mengubah pola pikir, dapat diawali dari hal-hal yang sederhana. Seperti yang disampaikan diatas misalnya, bangun pola pikir kalau IPMawati juga mampu memimpin, mampu show up tidak hanya bergelut dengan urusan konsumsi dan administrasi saja ketika kegiatan Taruna Melati. Jangan hanya karena penafsiran-penafsiran yang selama ini kalian pahami membuat kalian terbatas dalam bergerak, padahal kita ini juga dibutuhkan ummat dalam urusan kemanusiaan. Egois ketika tubuhmu hanya digunakan untuk kamu. Maksudnya, diluar sana banyak yang membutuhkan uluran tangan dan tenagamu untuk bersama membantu ummat. Turut sumbang asih pemikiran dan gerakan dalam forum diskusi, jangan hanya diam dan menyalahkan IPMawan jika kesepakatan yang diambil tidak sesuai dengan hati, kemudian membuat statement bahwa suara laki-laki lebih didengar daripada suara perempuan, padahal sendirinya tidak mampu untuk speak up. Jika urusan sederhana mengangkat barang-barang yang berat saja enggan dan dilimpahkan ke IPMawan secara tidak langsung kalian sendiri yang melanggengkan bahwa IPMawati lemah dan hanya dapat bekerja dengan sesuatu yang ringan saja seperti konstruksi yang terus dibangun oleh masyarakat. Permasalahan mengenai kurangnya Show up dan Speak up pada diri IPMawati ini barangkali disebabkan karena kurangnya kesadaran akan pentingnya kedua hal tersebut, maka kemudian orang yang paham mengenai peran perempuan dalam ranah publik perlu memberikan penyadaran kepada IPMawati yang belum sadar, penyadarannya dapat melalui diskusi, edukasi, sharing dan sebagainya. Karena kuncinya IPMawati harus disadarkan terlebih dahulu karena percuma jika banyak usaha-usaha diluar sana yang sedang memperjuangkan hak tentang perempuan tapi disisi lain perempuan tidak sadar kalau sedang diperjuangkan. Kemudian jika sedikit tulisan mengenai IPMawati ini dibaca dan ditafsirkan dengan mendiskriminasi IPMawati, perlu kiranya belajar untuk berfikir positif.

Berlatih untuk menjadi IPMawati yang progresif, terbuka pikirannya, jangan menjadi IPMawati yang eksklusif tidak mau menerima pendapat orang lain sebab terlalu kekeh dengan apa yang diyakini, menjadi IPMawati yang kuat dan berani show up juga speak up dan yang terpenting terus menebarkan kebermanfaatan untuk banyak orang. Menjadi itu semua untuk diri kamu sendiri bukan kemudian untuk mendapatkan penilaian positif tentang IPMawati dari kacamata IPMawan, karena itu semua sudah secara otomatis.

Saya jadi ingat dialog singkat dengan senior saya, kira-kira seperti ini narasinya, “Menurut mas, seorang perempuan itu harus bagaimana?” Tanyaku sedikit kepo, “Menjadi perempuan yang moderat, dapat membaur dengan orang-orang yang ikut kajian ke arah kanan dan ke kiri, agar tidak menjadi perempuan yang eksklusif dan konservatif”, Jawabnya. Pikirku benar juga apa yang disampaikan.

Menjadi IPMawati memang berat, melihat IPMawati yang lain ragu dan bimbang jangan dipersilahkan pulang, tapi digenggam untuk bersama-sama berjuang di satu jalan. Bisa jadi keraguan dan kebimbangan mereka disebabkan kurangnya komunikasi yang santun satu sama lain.

Banyak sekali IPMawati di luar sana yang progresif dapat menyeimbangkan urusan dunia dengan akhirat dan terus menebarkan kebermanfaatan untuk banyak orang. Untuk IPMawati hebat di luar sana, dapat salam penghormatan dari aku yang baru belajar menjadi “IPMawati Hebat”.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *