Oleh : Anisa Huwaeda (Anggota Influencer Milenial Berdakwah PW IPM Jawa Tengah 2019-2021)

Menurut arus zaman,
Menurut dinamisme kehidupan,
Menurut laju gelombang perubahan,
Dunia yang dikata makin berkemajuan?!
Adab hancur, ilmu lebur. Beragama!?, dianggap usang lagi uzur.
Kala umat jauh dari Qur’an, Sunnah enggan dikerjakan.
Rasulullah mulai tak teridolakan
Katanya, “artis Korea lebih tampan lagi menawan.”

Kini kita tengah menghadapi pandemic virus COVID-19, dimana semua orang dilanda kecemasan terjangkiti. Seluruh dunia dibuat geger oleh sesuatu yang bahkan tak terlihat mata. Luar biasa! Banyak penafsiran mengenai fenomena ini. Tapi coba kita ingat sejenak lirik lagu Ebiet G Ade berikut ini :

Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
[Buat yang tahu dan suka nyanyi bisa sambil dinyanyikan dan dihayati]

Lagu ini seakan menyengat awareness sanubari kita dengan pertanyaan, “Apa saja dosa yang telah kita lakukan hingga bencana dahsyat ini datang?”

Fenomena Rasulullah Tergantikan

Fenomena idola remaja adalah hal yang tak asing lagi bukan!?. Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, tokoh idola remaja generasi Y (kelahiran 1981-1994) dan Z (kelahiran 1995-2010) kriteria tertentu sebagai sosok idola mereka seiring dengan semakin canggihnya teknologi dan kemudahan akses informasi tanpa batas.

Jika pada era sebelumnya remaja di Indonesia hanya terbatas pada artis dan penyayi dalam negeri, dan sebagian dari luar negeri, berbeda halnya dengan kondisi sekarang yang sudah semakin bervariasi. Mulai dari Girl band dan boy band Korea, aktor-aktris bintang film ternama dari negeri Eropa dan Amerika, artis-artis dalam negeri, hingga bertambah lagi dengan artis youtube, vlog, atlet, dan sebagainya.

Jika kita bicara tentang “K-Popers” maupun pecinta drama Korea, mayoritas mereka menyukainya karena pengaruh dari teman-temannya, dan didukung oleh semakin mudahnya akses informasi seputar Korea melalui youtube dan media sosial lainnya. Artis dan penyanyi Korea yang menjadi idola remaja yang saat ini digemari karena selain suaranya yang syahdu, wajah mereka juga tampan dan cantik, berkulit putih, imut, lucu, berpenampilan menarik dan “disempurnakan” dengan postur tubuh mereka yang sangat ideal.

Hal inilah yang membuat para remaja ingin mengikuti idolanya sehingga mereka menggandrungi apapun yang berkaitan dengan artis Korea, bahkan lebih jauh lagi mereka juga tertarik dengan kebudayaan Korea, [Mon maap nih para korea-vers] mulai dari makanan, Bahasa Korea, make-up artis Korea, gaya berpakaian mereka, dan berbagai kebudayaan lainnya. Dengan demikian, jelas sekali pengaruh idola sangat besar dalam diri seseorang. Mereka akan meniru, mengimitasi banyak hal dan terkadang hingga tidak berpikir rasional dalam “menggilai” tokoh idolanya tersebut.

Fenomena tokoh idola remaja (terutama remaja muslim) saat ini jelas memprihatinkan. Mengapa? Apakah kita tidak boleh memiliki tokoh idola? Lalu, siapa tokoh yang seharusnya kita idolakan? Apakah artis, atlet, penyanyi, atau tokoh-tokoh tertentu? Apa alasan yang membuat mereka layak menjadi orang yang kita idolakan? Sebagai seorang muslim seharusya kita memahami ajaran Islam secara benar, sehingga kita tahu siapa yang seharusnya kita idolakan.

Bila kita memperhatikan fenomena dan gejala yang memasyarakat saat ini di dalam mencari panutan atau lebih trend lagi dengan sebutan “sang idola”, maka kita akan menemukan hal yang sangat kontras dengan apa yang terjadi pada abad-abad terdahulu.

Mari Kita Flashback zaman Doeloe

Orang-orang begitu mengidolakan manusia-manusia pilihan dan berakhlaq mulia di kalangan mereka seperti para ulama dan orang-orang yang shalih.

Flashback off

Real zaman now

Kondisi itu sekarang sudah berubah total. Orang-orang sekarang cenderung menjadikan manusia-manusia yang tidak karuan dari segala aspeknya sebagai idola. Mereka mengidolakan para pemain sepakbola, kaum selebritis, paranormal dan tokoh-tokoh maksiat pada umumnya.

Tentunya ini sangat ironis bukan!? karena sebagai umat Islam yang mayoritas seharusnya kita dapat memahami ajaran agama secara benar sehingga tidak terjerumus kepada hal-hal yang dilarang di dalamnya. Ketidaktahuan akan ajaran agama ini akan berimplikasi kepada masa depan kita kelak karena ini menyangkut keselamatan dan ketentraman mereka di dalam meniti kehidupan di dunia ini. [Mungkin bisa dilihat saat ini secara gamblang akibat yang telah terjadi]

Bahkan pada sekeliling kita, telah muncul gejala yang lebih serius dan mengkhawatirkan lagi, yaitu pengkultusan terhadap sosok yang dianggap sebagai tokoh tanpa menyelidiki terlebih dahulu sisi “aqidah” dan “akhlaq”. Tokoh idola ini diikuti semua perkataan dan ditiru semua perbuatannya tanpa ditimbang-timbang lagi, apakah yang dikatakan atau dilakukan itu benar atau salah menurut agama bahkan sebaliknya, perkataan dan perbuatannya justru menjadi acuan benar tidaknya menurut agama…naûdzu billâhi min dzâlik.

Marilah Kita Bijak Memilih Idola

Nah, maka dari itu perlu kita memilih idola, yang memang patut untuk kita idolakan. Jangan sampai, besok kita masuk ke lubang penyesalan seperti orang-orang yang Allah sebutkan dalam QS. Al Furqon : 28 yang artinya,


Duhai, andaikan aku tidak menjadikan Fulan sebagai seorang kekasih. Dia telah menyesatkan aku dari peringatan (yakni Al-Quran)”

Lalu siapakah Idola yang patut kita idolakan?


Ibnu Umar bertutur, “Barangsiapa ingin mengikuti, hendaknya dia mengikuti yang telah mati karena yang masih hidup tidak aman untuk terjatuh ke dalam godaan (kesesatan, red.). Mereka (yang pantas diikuti itu) adalah para sahabat Muhammad. Mereka adalah yang terbaik dari umat ini. Mereka yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, dan paling sedikit memberat-beratkan diri dari umat ini. Mereka adalah kaum yang telah Allah pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menyampaikan agama-Nya. Maka tirulah akhlak dan jalan mereka. Mereka, para sahabat Muhammad, berada di atas petunjuk yang lurus.” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya dari Ibnu Umar, diriwayatkan juga oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-‘Ilm wa Fadhlih dari Ibnu Mas’ud ].

Coba yuk kita kenali idola yang dimaksud oleh hadits diatas,
• Ali bin Abi Thalib, sang pemuda yang masuk Islam pertama kali.
• Ibnu Abbas, pemuda yang jenius masalah syariat.
• Imam Syafi’i yang hafal Al-Quran sebelum baligh.

Dan masih banyak lagi tokoh idola yang memang sepatutnya kita jadikan idola, dibanding oppa” Korea (mohon maaf bagi yang nge fans) tokoh idola diatas juga gak kalah ganteng dan syahdunya kok.

Masuk ke Liang Dhabb

Tahukah teman-teman binatang dhabb? Dhabb adalah binatang yang bentuknya mirip biawak. Cuma, kalau biawak hidupnya di air dan makan ikan, dhabb ini hidupnya di pasir dan makan serangga. Nah, dhabb ini kalau bikin sarang paaaanjaaang banget dan berliuk-liuk di dalam tanah.

Lho, kok bicara tentang dhabb, emang ada apa sih sama dhabb? Tenang aja, kita nggak bahas pelajaran biologi kok. Cuma begini teman-teman, Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits melalui sahabat Abu Sa’id Al-Khudri diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih karya mereka yang artinya, “Kalian benar-benar akan mengikuti jalan-jalan kaum yang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga jika mereka memasuki liang dhabb, niscaya kalian juga akan memasukinya.” Kekecilan dong? Iya, pengap lagi. Makanya, jangan pernah masuk deh. Hadits tadi adalah sebuah hadits yang mengungkapkan kepada kita betapa kita itu pasti akan mengikuti umat-umat lainnya (istilah kerennya: “tasyabbuh”). Rasulullah menggambarkan bahwa kita juga akan mengikuti mereka bahkan pada perkara yang detail kecil, dan remeh sekalipun. Padahal, tasyabbuh dengan orang selain Islam itu nggak boleh loh teman-teman.

Coba deh yuk teman-teman kita simak sabda Rasulullah berikut ini, “Barangsiapa ber-tasyabbuh dengan suatu kaum, maka ia bagian darinya.” [H.R. Abu Dawud dan An-Nasai, “Hasan Shahih” kata Syaikh Al-Albani].

Lha, kita kan Islam, masak mau dibilang termasuk dari golongan non-Islam?


Lalu, Siapakah Idola Sejati Kita?

Allah SWT telah mencanangkan idola yang wajib bagi kaum muslimin (catatan: yang dimaksud idola adalah TELADAN). Siapa hayo idola itu? Yuk kita baca firman Allah SWT berikut ini:
لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ

“(Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan bagi kalian) dapat dibaca iswatun dan uswatun (yang baik) untuk diikuti dalam hal berperang dan keteguhan serta kesabaran nya, yang masing-masing diterapkan pada tempat-tempatnya (bagi orang) lafal ayat ini berkedudukan menjadi badal dari lafal lakum (yang mengharap rahmat Allah) yakni takut kepada-Nya (dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah) berbeda halnya dengan orang-orang yang selain mereka.” [QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21]
Nah, dapat kita tarik kesimpulan Sang idola sejati adalah Rasulullah SAW, Rasul yang diutus kepada seluruh jin dan manusia, semua kalangan, tanpa membedakan suku, ras, strata sosial, atau kasta. Kita diperintahkan untuk mengikuti beliau dalam semua masalah keagamaan, mutlak tanpa tapi. Berbeda dengan orang selain beliau, para sahabat, tabi’in, ulama, semuanya kita ikuti kalau sesuai dengan Nabi. Kalau nggak, nggak kita ikuti deh.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *