Oleh : Atha Zha Zha Zaky (Sekretaris Bidang Advokasi PW IPM Jawa Tengah 2019-2021)

Awal bulan Mei, Presiden Joko Widodo menyampaikan masyarakat untuk berdamai dengan corona. Pesan untuk berdamai dengan virus Corona itu disampaikan hari Kamis, (7/5). Kala itu, Jokowi mengatakan kasus virus Corona di Indonesia masih mengalami fluktuasi. Karena itu, menurut dia, selama belum adanya vaksin, masyarakat harus berdamai dengan virus ini.

Pihak Istana kemudian menjelaskan frasa “hidup berdamai” yang dimaksud Jokowi. Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan, frasa tersebut diartikan sebagai penyesuaian baru dalam tatanan kehidupan.

Selain itu menurut penulis pesan ini akan tepat, bila dikontekskan dalam kondisi psikologis masyarakat saat pandemi. Agar lebih optimis dan tidak begitu saja menyerah dengan keadaan. Sambil menunggu vaksin dan penanganan lebih lanjut dari para pemangku kebijakan, tentunya live must going on. Kalau boleh saya mengatakan mlebu kelas ora mlebu kelas sing penting tetep sinau.

Kita yang jahat sama alam

Namun, selain memulai berdamai dengan corona dalam artian beradaptasi guna terus melanjutkan rutinitas kehidupan. Kita kadang lupa, ada juga sesuatu yang kita perlu berdamai denganya. Yaitu alam, kenapa alam? Karena mungkin selama kehidupan normal, kita sering jahat sama alam. Kok bisa?, ya bisa doong.

Coba ingat bareng-bareng bungkus cilok, cilor, maklor, somay dan kawan-kawanya yang masih transit di laci meja kita selama kita tinggal di rumah. Berapa gelas plastik bekas boba, thai tea, coklat, atau sekedar bungkus plastik bekas marimas, teh sisri, dan kawan-kawanya yang begitu saja kita hempaskan dan campakan ke tanah.

Masih belum kerasa feell nya? Sambil merem deh. Bayangin berapa makanan pas buka puasa kemarin yang gak kemakan terus kebuang gitu aja gegara kita kalap mata beli ini itu, padahal dah kenyang minum teh anget (yang manis dan hangat memang melegakan). Sedih gak sih kalau tahu negara kita penghasil sampah makanan terbanyak kedua di dunia.

Padahal sudah berbusa busa ibu bapakmu ngomong saat kalian kecil. “le, ndug neg maem dihabisne, mangke ndak segone nangis”. (Kebayang gak, berapa nasi, lauk, jajanan, es yang nangis gara-gara kita buang gitu aja). Di belahan dunia yang lain, masih ada orang-orang yang kelaparan dan mengalami malnutrisi akibat kurangnya makanan yang layak.

Menurut laman Food and Agriculture Organization of United Nations (FAO), diperkirakan sekitar 1/3 makanan yang masih layak berujung menjadi limbah.

Bukan hanya tidak etis, food waste juga menjadi polemik global sebab dianggap menyia-nyiakan tanah, air, energi, tenaga kerja serta sumber daya alam lain yang digunakan untuk memproduksi makanan. FAO juga mencatat bahwa ada 1,3 triliun ton makanan yang hilang setiap tahunnya, dengan rincian 10 persen kehilangan saat produksi, 7 persen saat pengolahan pasca panen & distribusi, 1 persen kehilangan saat proses pengolahan, 6 persen kehilangan saat pemasaran dan 9 persen saat tahap konsumsi. Belum lagi penggunaan energi listrik yang berlebihan kayak pendingin ruangan, kipas, tv, dll.

Berdamai dengan alam

Salah satu aktualisasi rukun iman percaya pada hari akhir dalam model gerakan pelajar berkemajuan adalah mencegah kerusakan lingkungan (Buku ideologi IPM, hlm 112). Selain itu sudah menjadi tugas kita sebagai khalifah di muka bumi untuk merawat alam yang sudah diberikan pada kita untuk diambil kebermanfaatanya. Dari sisi manapun, baik agama, moral, etis, bahkan dari sisi kebutuhan manusia sendiri menjaga kelestarian alam sangat perlu dilakukan.

Jangan sampai alam kita ikutan rusak gara gara kelakuan kita yang kurang peduli dengan lingkungan. Ati oleh ambyar tapi lingkungan ora oleh buyar. Beberapa hari yang lalu muncul berita di TV beberapa tempat wisata alam yang selalu penuh sesak manusia, mulai didatangi hewan hewan yang sekedar bersantai atau mencari makan. Nampaknya alam sedikit bernafas ketika rutinitas manusia yang begitu hiruk pikuk sedikit terkurangi.

Momen kayak gini tepat banget buat kita mulai berdamai dengan alam. Mulai memilah sampah di rumah, menanam tanaman, dan mulai bertekad untuk mengurangi penggunaan sampah plastik, minimal mulai sadar buang sampah di tempatnya. Apalagi kita telah melaksanakan ibadah puasa sebulan lamanya. Yang seharusnya mengekang jiwa jiwa konsumerisme yang berlebihan dalam diri kita. Maka di akhir bukan hanya corona saja yang perlu kita berdamai dengan-Nya tapi alam juga.


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *